SETELAH hujan lebat, saya masih di area Spontan. Berbincang dengan orang yang paham kenapa pesta kawinan digelar tujuh hari tujuh malam, yang oleh warga Spontan, saat ini dijadikan tokoh masyarakat. Dimana, dalam pesta itu, semua warga makannya di rumah yang sedang hajatan.
Beliau berkisah, pernikahan atau khitanan adalah lebaran tersendiri bagi warga kampungnya. Sebuah berkah dan kegembiraan. Namun ketika di atas tahun 90an, pesta dan hajatan itu, tak lagi mampu tujuh hari tujuh malam. Maksimal hanya tiga hari, itupun terbatas pada beberapa warga yang masih kaya raya. Umumnya, yang anak-anaknya sudah jadi PNS. Lain itu tak ada lagi yang mampu.
Ada perbedaan mendasar pada pesta di bawah tahun 90an. Mereka mampu menggelar hajatan dengan menanggung makan semua warga di dusun, bahkan ada yang satu desa, karena makanan masih disediakan alam. Semua rumah punya bedil locok. Senjata api yang diisi mesiu untuk berburu kijang, menjangan, atau kerbau di hutan yang didapat hanya dalam hitungan jam.
Dua kerbau dua kijang, beberapa keranjang ikan kali atau ikan laut, cukup untuk makanan pesta selama tujuh hari tujuh malam.
Mulai tahun 80an, hutan mulai dirambah, belukar menyempit, binatang tidak ada lagi, kerbau tinggal sedikit dan sudah ada tanda siapa pemiliknya. Tak bisa sembarangan menyembelih. Demi kelestarian pesta hajatan sebab di sana ada martabat, rasa malu, gengsi dan bagian dari kewajiban orang tua menikahkan anak, pesta tetap digelar. Namun orang mulai sedikit yang menyumbang beras, gula merah, ikan, kelapa, sayur mayur dan semacamnya. Beberapa diantaranya justru menyumbang uang yang jika dibelikan kelapa hanya dapat beberapa ikat. Jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tak ada orang menyumbang uang namun banyak yang membawa bahan makanan, diolah bersama-sama dan dimakan bersama-sama di rumah saifulhajat.
Demi martabat, gengsi, menjaga rasa malu, pesta harus tetap digelar. Akhirnya dijual kebunnya. Dijual tanahnya, digadai pekarangannya yang kemudian tak mampu mengembalikan uang gadai, dijual murah.
Era 2000an, mereka mulai merasakan, tak punya kebun, tak ada sawah, tanah rumahnya kian menyempit. Makanan susah didapat di hutan, di sungai dan bahkan di laut. Akhirnya mereka kesulitan mendapat gizi yang cukup. Anak-anak kecilnya, tak ada yang bisa mengikuti jejak kakaknya masuk ke ponpes nun jauh di sana, di tanah seberang. Bahkan untuk sekolah lanjutan negeri pun, karena mesti memakai ongkos ketika pulang pergi, banyak yang terputus. Ada yang berhasil lulus, itupun disertai menjual dan membelah pekarangan-pekarangan rumah. Problem hidup muncul kembali setelah lulus. Sulit mendapat lapangan kerja.
Sistem berkebun, ke sungai atau ke laut, ke hutan yang sehari mencari bisa untuk makan sebulan, sudah tidak ada lagi. Kerja upahan di bekas kebun dan atau ladangnya, bukan hanya tidak bisa, itu sangat menyakitkan hati. Apalagi di sana sudah ada berbagai tanaman yang hanya dua kali musim panen, bisa membeli mobil.
Ingat bagaimana kejayaan cengkih, kopi, lada dan bermodal bedil locok bisa membawa pulang daging kijang yang sangat lezat, seperti mimpi. Baru kemarin terjadi, buruh dan orang yang menumpang itu telah memiliki hak atas tanahnya. Kepala tertekuk dan tutur halus ketika bicara di era 90an ke bawah, sudah tak ada lagi. Bahkan tatapan matanya seolah menghina kemiskinan dan hidupnya yang jatuh melarat. Dorongan sakit itulah yang kemudian membuat keinginan mengarahkan bedil locok ke kepala bekas buruhnya. Orang yang dulu pertama datang seperti gembel, berkata lembut dan penuh kepatuhan. Sekarang, orang-orang itu sudah naik mobil dengan kaca gelap dan tertutup rapat. Naik sepeda motor yang baru yang membunyikan klakson dan gaya duduknya seperti menghina bekas majikan. Majikan yang pernah menggelar pesta tujuh hari tujuh malam, semua warga makan bersama di rumahnya. Rumah tembok yang menyiratkan pernah sangat makmur. Berlantai marmer dan pernah punya kulkas karena belum ada listrik, kulkas itu hanya untuk lemari baju.
Ketika bercerita, nada suaranya bergetar. Saya ikut merasakan denyut kesedihan di dalamnya. Lalu membuang kesan terlalu larut, menyorongkan rokok dengan halus. Kami bersama menyedot asap dengan diam, dalam, cukup lama. Kopi kami telah tandas. Sampai akhirnya, saya memberanikan diri bertanya. Kenapa Tuan ikut bermukim bareng orang-orang Spontan?
Lalu dia melanjutkan ceritanya. Emosi dan sakit hatinya reda ketika hidup bareng mereka. Hanya mengenal kerja dan meyakini ada masa depan meski sekarang penuh keprihatinan. Benar, jahe merah yang ditanamnya ketemu harga. Rp.3000 untuk satu kilogram dalam kondisi habis cabut. Uang tunai hasil panen belasan juta itu, membuat hilang kendali atas lilitan sakit dan nanar ketika mengingat luas kebun dan mewah rumah yang ditinggalkannya, yang kini sudah tinggal puing-puing dan sisa tembok serta lantai marmernya. Rumah yang sudah roboh, di daerah asal yang berjarak sekitar 130 km.
Dia menyatakan, mendapat martabat, kehormatan, merebut rasa gengsi dan bisa naik mobil akibat puasa bareng orang-orang Spontan. Menurut dia, orang Spontan, semiskin dan sebodoh apa pun, tak mengenal apa itu laku kriminal. Di perkotaan pun, jika ada permukiman orang Spontan, merekalah warga yang rela jadi pemulung, tukang sampah, buruh kasar, sampai upahan yang tak mungkin bisa dikerjakan warga non-Spontan.
Di perkampungan, warga yang sudah lebih dulu datang, punya tanah luas, butuh buruh yang mau diupah untuk membersihkan ladang, menanam, merawat sampai memanen tanaman. Banyak lapangan kerja asal mau dan itulah yang membuat tidak ada warga Spontan jahat. Maling, merampok, bahkan sekadar untuk mencuri jam kerja dengan tidur di gubuk penuh kemalasan. Tak pernah dilakukan orang Spontan. Percayalah, tak ada pelaku kejahatan yang melibatkan pelakunya warga Spontan. Kalau yang tetap bodoh dan miskin, banyak.
Kalaupun ada penjahat di tengah lingkungan warga Spontan, kalau tidak didorong rasa sakit hati, menurut Bapak Tua yang berbincang dengan saya sampai larut malam, pasti karena dia pemalas, pecandu narkoba, atau memang "pelarian". Nah, orang-orang pelarian ini, memang bisa disebut dan mengklaim dirinya warga Spontan. Menurut dia, tak akan bertahan lama dan mampu bertahan mukim di area Spontan. Hal itu bisa ditandai, jika penampilannya rapi, tahan berbincang sampai berjam-jam, tak kuat ikut buruh harian yang butuh kerja-kerja kasar mengandalkan tubuh kuat serta berani badannya kotor. Beliau mengimbau jika ada pendatang macam itu, waspadailah. "Dia warga Spontan yang jahat. Lama-kelamaan, berani maling atau melakukan kejahatan."
Saya hanya bengong, tidak sepenuhnya paham apa yang beliau katakan. Namun menyisakan pertanyaan. Benarkah tidak ada orang yang berlaku jahat di permukiman Spontan? Sekilas, dilihat dari keberanian mereka bermandi peluh, bertubuh kotor demi upah harian, saya merasakan kebenaran apa yang Bapak Tua itu katakan. Beliau yang masih menyimpan bedil locok, senjata api untuk berburu binatang hutan pada tahun 80an. Namun senjata jenis itu belakangan sering dijadikan alat untuk beberapa anak muda, berlaku sadis, merampas sepeda motor warga yang lewat. Tak jarang melukai dan bahkan tega membunuh korbannya. (*)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.













Add a Comment