TERLEPAS dari berbagai pujian dan catatan yang menjadi kekurangan dalam even Festival Kopi Lampung, saya lebih nyaman mengucap maupun menulis "Kopi Lampung" dibanding "Lampung Coffee".
Alasannya, menyebut "Coffee" membuat kita langsung tergeser dalam pemaknaan "kafe". Dan soal Kupi, Kopi, Coffee, saya tak bisa bersepakat dengan William Shakespeare, tentang "apalah arti sebuah nama". Sebab pada soal kopi itu, nama sangat menentukan kualitas. Dalam dunia bisnis, sudah sangat terkenal. Bahkan sebuah kelas yang seolah lebih bergengsi muncul. Hanya berbasis tanda dan beda nama, harga pun bisa jauh berbeda. Yang kampungan murah meriah, yang keinggris-inggrisan, lebih mahal. Misalnya, kopi hitam harganya dua ribu. Kalau diberinama Black Coffee, jadi 21 ribu. Termasuk, berlaku ke semua lini usaha. Pijat urut, ongkosnya Rp.25 ribu begitu diganti Massage, jadi 250 ribu.
Banyak anekdot, kemudian kata yang keinggris-inggrisan, salah ejaan, "service" jadi "serpis". Bahkan dengan cat pilok berhuruf jelek di papan seorang pemilik kios berani menulis merk. "Terima Serpis Henpon". Ini bukan tentang salah dan benar. Sekadar penglihatan bahwa sepertinya semua orang mulai terbius, yang berbau luar negeri lebih mahal dan bergengsi. Meski bagi banyak orang, tentu saja termasuk saya, tak ada keren dan gengsinya sama sekali.
Justru kata-kata inggris itu banyak menguras air ludah. Tak percaya, ucapkan kalimat ini; "Tiga nenek sihir melihat tiga Arloji merk Swatch. Nenek sihir mana yang mlihat Arloji merk Swatch?" coba diucapkan dengan bahasa inggris, kurang lebih begini; "Three wiches atch three Swatch watches. Which witch watch which Swatch watch?"
Lantas, apa keren dan gengsinya pakai bahasa gila yang lain tulis lain baca itu?
Menulis kopi menjadi coffee, sama sekali tidak lucu. Jauh pula dari kesan keren. Di saat banyak ilmuan sekarang mulai konsen mempelajari bahasa-bahasa daerah, bahasa kuno untuk menemukan marwah sebuah bangsa. Kita masih sibuk menginggris-inggriskan kata yang sangat lazim dan sudah diketahui dunia, yang jangan-jangan orang luar sendiri bingung, itu kalimat apa maksudnya. Menggunakan kata berbahasa inggris kok pakai susunan diterangkan menerangkan (DM) yang mestinya menerangkan diterangkan (MD). Biasanya sih, kerancuan berbahasa, menandakan kacaunya konsep, kesalahan pikiran dan pasti berdampak pada kurang sistematisnya kegiatan.
Lantas bagaimana untuk memasarkan ke dunia internasional? Jika mengajukan pertanyaan semacam ini, langsung saja balik ditanya. "Sehat, Dik?" sembari memegang keningnya.
Dunia internasional itu tak perlu nama sebuah festival yang keinggris-linggisan. Cukup promosikan uniknya, tebar video khas dan aslinya, atau pakai setrategi PR yang memang sudah berstandar internasional. Gak ada hubungannya sama sekali dengan penggunaan nama festival pakai bahasa inggris.
Harus diakui, Festival Kopi Lampung yang baru ditutup Gubernur M Ridho Ficardo, menyisakan dua persoalan penting. Pertama, semacam gerakan untuk mengkonsolidasikan perkopian Lampung. Suara miring, mesti disikapi dengan dewasa sebagai bentuk komitmen menuju lebih baik.
Artinya, jangan berlebihan ketika ada yang mengkritisi sebuah kebijakan. Terutama tulisan dari hasil coretan di toilet ini, bukan hal yang penting. Sebagai orang yang sering melihat dari sudut pesimisme untuk sebuah langkah yang paling banyak dipuji, apalagi acara itu sempat jadi tranding topik di twitter.
Itu semua membuktikan, konsolidasi perkopian untuk mengangkat dampak kegandrungan orang pada kopi, harus dilakukan secara terbuka, melibatkan banyak pihak, banyak orang dan bahkan, perlu banyak menguak yang belum terungkap. Menjawab pertanyaan dan memastikan, kopi-kopi saset itu bijinya dari mana? Keluaran acara itu mau kemana?
Lomba barista, harusnya menjadi peta awal untuk menciptakan "pride" kopi Lampung. Kabarnya, pemenangnya adalah anak muda, yang punya kebun kopi sendiri, konsen dan bergelut dengan wangi kembangnya, pandai membaca musim, sampai tahu detail kapan waktu memetik hingga menyangrai dan menjadi air hitam yang pahit menendang tenggorokan. Harus dimulai dari kluster yang terpisah antara buruh, petani, pengepul, industri, barista, pemilik kedai kopi, penikmat. Kecuali eksportir, tak perlu disentuh mereka terbukti sudah kaya raya dengan usaha kopi. Sekadar bagian pengurus administrasinya pun, kecipratan kaya.
Lacofest, setidaknya membuat saya baru tahu, ada kopi belalau, ulubelu, sekincau, way tebu dan semacamnya. Meski ada yang jualan cukup menjawab, kopi Lampung. Ketika ditanya Lampung mana? Tergeragap, lalu menjawab. "Ini robusta, asli Lampung." Atuh, semua orang geh tahu, Mbakyu, kalau ini acara robusta. Ayu-ayu kok pekok. :ampun:
Catatan saya, tidak ada seleksi peserta. Apakah Lacofest ini fetivalnya petani, tengkulak, pemilik kafe atau sekadar berkumpulnya orang yang hobi ngupi. Memadukan semua kluster itu dengan waktu dua hari dan digelar di dalam Mall, jelas mustahil tercapai tujuannya. Terlebih ini acara pertama yang dihelat pada level provinsi.
Kedua, festival kopi Lampung menjadi potret secara utuh kondisi yang terjadi atas tanaman unggulan di daerah kita. Saya merasakan bagaimana menjadi orang kalah. Beruntung, hidup saya yang selalu merasakan dan berada dalam posisi kalah sepanjang hidup, membuat kekalahan-kekalahan tak bisa lagi saya anggap sebagai kekalahan. Bahkan secara gagah berani, seringkali saya merasa menang, biar kalah asal senang. :-bd jadi gembira, orang tak tahu apa hakekat menang dan kalah. Merasakan gembira meski terusir dan kalah, kadang menjadi sikap yang penting untuk bertahan hidup. :D
Itulah potret para buruh tani kopi yang digambarkan secara utuh oleh Lacofest. Yang mungkin lebih tepat disebut festival para tengkulak kopi. Pestanya para burjuis yang menikmati hasil penindasan dalam strukturasi perkopian. Kekalahan-kekalahan yang dihimpun dan pasti, meski sering terombang-ambing, akan mewujudkan kemenangan. Saya menulis kalimat tebal ini tepat ketika di dalam toilet MBK, yang kebetulan waktu mau masuknya, berpapasan dengan Sekda. Salaman. Lalu tertawa sendiri, Cuk.
Menemukan Pacar Hitam
Saya merasakan cukup lama, bertahan menikmati acara Lacofest. Banyak mencicip kopi gratis di gelas plastik yang jadi wadah saos di KFC. :D
Dua kali ke toilet di mall yang termasuk paling susah cari tempat parkir itu, mungkin kelamaan mematung di depan outlet seluas dua kali dua meter dengan berbagai merk kafe, yang penjaganya anak-anak muda, penuh antusiasme dan seolah menawarkan, ini lho, emas merah asli Lampung yang mebuat air berwarna hitam, meski merk-merk dan jenis kopinya hampir sama rasanya. Mungkin saja, biji kopi-nya dibeli dari satu tengkulak, yang alat meraciknya dibeli dari satu outlet yang ikut acara dan punya stand paling luas, membuat saya mesti beberapa kali mencari udara segar untuk menemukan jawabannya. Sayang, tidak ketemu karena begitu banyak melihat perempuan cantik. Harap maklum, saya memang begitu, sering lupa tujuan kalau melihat senyum yang merekah dan betis seperti batang kopi kering tanpa tutup sampai paha.
Masuk lagi, ada penjaga outlet yang tergopoh-gopoh baru menata kopi bubuk yang dibungkus pakai merk dagangnya. Namun di tengah kebisingan itu, tempat yang sempit untuk ukuran pesta dan penjualan hasil bumi terbesar di Indonesia saya melihat berbagai kejanggalan. Misalnya, dengan pertanyaan yang sama, ini kopi mana? Dijawab dengan penuh keyakinan oleh penjaga outletnya. "Kopi asli Lampung, Pak, robusta."
Tentu saya menunjukkan wajah penasaran. Otak dan mulut saya yang tengil, tak bisa menerima jawaban yang sama dua kali dari dua orang penjual yang berbeda usia. Tanpa sadar, nerocos terus. "Dari daerah mana ya?" Dijawabnya, ya Lampung, Pak. Dia terlihat mulai kesal. Mesuji atau Metro? "Kayaknya Lampung Barat."
Takut gaya terminal saya keluar, mencaci maki dan mengeluarkan kata-kata kasar. Saya memilih pergi sebelum acara penutupan dimulai. Melihat tampah berisi mantang rebus, jagung rebus tertutup plastik sangat rapi, di ruang mall berpendingin udara yang pengunjungnya tak boleh merokok itu, menghadirkan pemandangan kontras. Di koridor restoran ada berbagai menu khas makanan luar negeri, namun di Lacofest, disiapkan penganan kampung.
Balik lagi ke lokasi, mulai serius mengamati dan mencicip kualitas kopi robusta yang dipasarkan. Setelah berkeliling, sampailah kesimpulan. Hanya ada dua tempat yang paling layak disebut kafe dan penyedia kopi berkualitas. Yakni, kedai Pacar Hitam dan Dr.Coffee. Selebihnya, maaf, kurang memahami seni perkopian.
Pacar Hitam, punya dua barista yang terlihat atraktif. Selalu ramah, tak terlihat kesal meski banyak yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan tak penting, yang ada ibu-ibu justru menanyakan alatnya beli dimana dibanding jenis biji kopi dari mana yang sedang diraciknya. Namun anak muda itu tak menunjukkan wajah masygul, dengan ringan menjawab. "Kalau alatnya beli di situ, Bu. Semua jenis alat ada di situ." Jarinya menunjuk outlet di depannya yang dipisahkan tempat duduk tamu undangan. Dimana kafenya di Bandarlampung? Dengan santai dijawabnya, di jalan Zainal Abidin Pagaralam, hanya pakai mobil. Kedainya, bukan ruko atau model rumah seperti Yelow Truck, yang dulu ketika saya masih hobi pakai multiply, toko komputer. Sekarang, sudah jadi penyedia kopi americano. Pacar Hitam, setahu saya awal buka di Kalianda. Lalu merambah jalanan di Bandarlampung yang semua penjualnya anak-anak muda. Lebih banyak menyiapkan kopi jenis arabika dibanding robusta. Namun menurut anak yang terlihat terampil meracik kopi itu, berkenan hadir di Lacofest sebab merasa terpanggil untuk ikut konsolidasi kopi sebagai bentuk kontribusinya, terlibat mewujudkan "pride" kopi Lampung.
Model warung Pacar Hitam, dan kedai-kedai kopi yang bermodal cekak, yang dikelola anak-anak muda, setidaknya menjadi modal sosial. Tidak masalah, ketika awal digelar festival kopi hanya melibatkan tengkulak dan anak-anak ini. Dibanding jika hanya mengejar MURI lalu memobilisir para petani kopi. Toh kebun kopi milik Kang Muri sudah dijual untuk berangkatkan anaknya jadi TKI. Artinya, petani punya daya survival. Saya tak percaya, jika ada cerita jeritan petani kopi akibat harga anjlok. Apalagi petani yang punya kebun luasnya lebih dua hektare, mereka bisa dengan mudah mengambil dana talangan sebelum panen agar tetap mampu membiayai anaknya yang kuliah di ibukota. Mestinya, peta dan roadmap kopi di Lampung, lebih detail, punya batasan antara buruh dan petaninya. Sampai kemana diproses dan dijual biji kopi itu.
Kalau dilihat dari data "Statistik Kopi Indonesia 2014-2016" yang diterbitkan Dirjen Perkebunan, terungkap, pada Tahun 2014, luas perkebunan rakyat (smallholder) di Lampung ada 155.007 hektare dengan total produksi 92.111 ton. Tahun 2015,luas perkebunan rakyat (smallholder) ada 161.228 hektare dengan total produksi 108.964 ton.
Tahun 2016, luas perkebunan rakyat (smallholder) ada 162.070 hektare dengan total produksi 108.983 ton. Ini jika mengacu data Dirjen Perkebunan. Jika berbasis ucapan Sekda Provinsi Lampung ketika membuka acara Lacofest, total hasil produksi kopi di Lampung ada 150 ribu ton. Entah mana yang benar, namun semua sepakat. Perkopian di Lampung ada kendala infrastruktur yang dihadapi. Yaitu, kurangnya dukungan jalan, alat angkut dan semacamnya dilevel usaha budi daya tanaman kopi, serta industri pengolahan kopi masih kekurangan pasokan energi dan listrik. Selain itu, belum optimalnya kegiatan forum komunikasi dan koordinasi antar-stakeholders, utamanya yang mengarah ke pembentukan kerjasama kemitraan. Ini infrastruktur yang mesti disiapkan pemerintah. Dan ternyata, sehari kemudian puncak peringatan 150 tahun pabrik kopi merk terkenal yang punya tempat di Lampung, menjanjikan kemitraan, meski realisasinya, apakah yang dimaksud kemitraan itu sistim ijon?
Lacofest mestinya menjembatani itu semua. Sebab, sudah ada ruang pertemuan antara petani, tengkulak, pengusaha kafe, industri kopi yang sudah berkualitas ekspor, sampai dengan hadirnya para pejabat pemerintah daerah dalam acara itu. Bahwa kemudian belum maksimal dan pasti ada yang merasa terkalahkan, termarginalkan, sampai merasa subaltern, pasti. Akan tetapi, melihat dari toilet mall itu, saya tak tahu siapa yang dikalahkan. Sama tak tahunya, mana data yang benar, apakah 150 ribu ton atau 108 ribu ton. Sebab, setahu saya, hanya saya yang terusir ketika hendak memesan kopi pakai gelas beling.
Sebagai orang yang sering kalah dan bahkan menganggap kekalahan adalah kemenangan, tidak sadar kalau ada peniadaan satu sama liyan, saya melihat Lacofest bisa menjadi tatal dari lukisan yang ikut mewarnai museum Lampung. Dibanding hanya berisi pedagang jagung bakar ketika malam hari. Mestinya, kebanggaan atas marwah sebuah daerah dimulai dari hal-hal sederhana seperti ini. Misalnya, buat satu jalur utama di jalan protokol khusus untuk kedai kopi Lampung. Contohnya jalur kripik di Jalan Pagaralam.
Pemerintah, memang sesekali perlu pakai tangan besi. Usir pedagang yang tak jual kopi di depan museum atau misalnya, di PKOR Wayhalim. Dibanding jadi ruang karaoke, jualan bir (para pencecap wine saja sudah banyak beralih ke minuman kopi) kenapa tak diubah, jadi warung-warung kopi yang artistik dan estetis. Bukankah di sana ada kantor DKL yang jadi tempat berkumpulnya para penggiat kesenian, yang pasti penikmat kopi? Ada gedung pemuda yang bisa dibuat mewah ketika pameran pembangunan 2015 lalu, ada kopi aceh yang semua PPK pernah janjian bertemu di sana. :D Hush. Maaf keceplosan. Maklum nulis di toilet.
Perlu Ruangan Kedap
Seorang penikmat kopi sejati, memang butuh ruang tertutup, berpendingin udara. Kesannya, ekslusif. Sebab, di sana perlu menghirup aroma kopi dan mengetahui kadar kualitas wanginya. Namun, jangan dinista juga peminum dan pemabuk kopi model saya yang ketika mencerecapnya, butuh suasana dan menjadikan cerobong asap di mulut. PKOR Wayhalim punya sarana itu semua. Ada gedung yang bisa disulap bagi penikmat kopi tanpa asap. Ada ruang terbuka yang khusus pemabok kopi bermulut asbak juga sembari melihat cahaya neon.
Asal tahu saja, ketika beli kopi, orang model saya tak pernah menawar secara cerewet tetapi begitu beli beras, bukan saja menelisik ini beras dolog yang apek dan pakai pemutih bukan? Dari mana berasnya, sekilo berapa, padi jenis apa? Sederet tanya selalu menyertainya. Itupun seringkali batal dan berpindah tempat sampai menemukan kualitas beras yang diinginkan dan atau yang bisa dihutang. :malu Jalur menuju jembat layang di ujung jalan Sultan Agung, pernah hampir jadi ikon. Khusus untuk orang yang mencari durian jika malam hari. Belakangan, jadi campur aduk, ada mainan anak-anak, ada restoran, ada yang hanya mengkapling lahannya tanpa jelas mau jual apa? Pemerintah, tak perlu memperhatikan kenapa petani kopi menjual hasilnya dan berpura-pura mencari cara menstabilkan harga ketika panen. Sebab, bukan saja
tidak mampu, pendidikan dan kesehatan yang jelas-jelas tugas utamanya saja masih kedodoran apalagi hasil pertanian yang masuk ranah dinas perkebunan. Cukup buat aturan tegas, di jalur ini, khusus kedai kopi dan turunannya. Bisa dibayangkan, ketika musim akik, ada jalur yang bisa mendadak penuh penjual batu. Ada jalur yang ketika mencari keripik orang langsung masuk Gang PU. Dimanakah jalur kopi Lampung? Ke Lampung Barat yang pernah dapat MURI paling banyak melibatkan orang menyangrai? Ah, di sana saja saya disuguhi kopi merk jempol yang pabriknya di Bandarlampung.
Betapa kasihan sekali para pengusaha kopi yang terlihat susah mencari peta wilayah untuk berusaha menjual racikan kopinya. Lihat saja warung kopi paste di jalur dua Kemiling, tutup. Kedai kopi di Jalan Korpri, belum tutup tapi tak pernah ada pembeli, Dr. Coffee pindah dari jalur dua Unila ke dekat penjual kripik karena mungkin berpikir mendekati orang yang akan cari oleh-oleh khas Lampung. Bahkan yang punya modal kuat pun, terlihat gamang meraba-raba tata ruang untuk jalur kopi. Sampai ikut buka lapak di Mall, di Telukbetung, di Jalan Kartini, di Jalan Urip Sumohrajo? Pengusaha jika suruh berjuang sendiri, pasti anak-anak muda berbakat di stand Lacofest akan beralih usaha, bisa jadi malah nanti ikut jualan kebab atau junk food.
Pedagang itu, punya daya tahan dan sering tak taat aturan. Trotoar yang kelihatan ramai, pasti digelar tikar dan dibuat tenda untuk jualan. Sebelum diprotes, dengan riang gembira pemerintah menarik salar, alasan keamanan dan uang kebersihan. Setelah ramai, dirasa mengganggu ketertiban, pemerintah menggusur rakyat yang mengais rezeki dengan keringat dan tak pernah butuh bantuan negara. Lewat Lacofest, mestinya memulai itu. Buat jalur khusus kopi. Yang jualan tidak berada di jalurnya, biarkan saja, direkayasa sampai tutup karena tak ada pembeli. Sampai pada tahap tertentu, kita ancam orang yang beli di sana dengan kata-kata hoax, kopinya pakai daging tikus, pakai pengawet mayat, mengandung borax dan apa saja agar waralabanya laku. Ups, kok mirip kampanye borax di tivi karena iklan mart-mart yang sampai berdiri di pelosok-pelosok kampung itu. Dan benar, bukan? Orang tua sekarang lebih percaya beli ciki di mart itu dibanding beli gulali pada tukang pikul yang mangkal di pojok sekolah. Tentu saja pemerintah bisa pakai model itu, alasannya, kesehatan dan keindahan lingkungan kota sebagai pintu Lacofest mendunia. Ada kampung unik khas seperti Jalan Jaksa, namun isinya diskusi literasi model isi rubrik "ngupi pay" yang mencerahkan itu.
Atas nama kesehatan dan tata indah peminum kopi, kita butuh jalur yang mirip jalan kripik di Gang PU. Mari kita kepalkan tangan kiri sambil menyanyikan; rakyat bersatu tak bisa dikalahkan, rakyat bersatu tak bisa dikalahkan. Pengopi bersatu, yang keluar pisuhan. :metal:
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.












Add a Comment