Menikmati Edan Turun Bersama Pak Mardi
28 November 2016 by: Redaksi - Dilihat 315 kali

BADAN saya serasa kerasukan, seketika berlari mendekati panggung tempat asal suara ketika biduanita mulai mendesah. Mengajak goyang. Saya merasa asing dengan lagu itu, namun akrab, sebab ketukan dangdut dengan semua lagu-lagu khas Pantura, hampir senada. Ada desah dan ajak-ajak bersuara, ikh..kha...hasyek.

Bukan perkara sulit untuk menemukan lagunya, meski yang saya hafal hanya ketukan lala..asyik..lala..asyik...dangdut yang ada sedikit aroma rege dan ngepopnya. Baru memutar kata kunci Via Vallen di youtube, langsung ketemu.

Judul lagunya, Edan Turun.

Saya langsung ingat suasana asyik-asyik itu. Sebab, bersama saya entah Pak Mardi atau yang namanya Pak Trisno, lupa.

Beliau berdua adalah tukang gambuh yang ada di samping panggung. Kepalanya manggut-manggut, jari tangannya menari-nari, sesekali menepuk-nepuk pahanya sendiri, terlihat menikmati lagu itu.

Bahkan ketika biduanita kami mendendangkan. "...tulus lan ikhlase welas sun nyang riko../Paran tah paran maning, hang nggawe atine riko/Magih mangumangu, sing gelem telikas nompo welas isun..Ngelayung biso isun, dung sing biso nduweni../ kira-kira begitulah lirik yang berhasil saya ambil dari youtube.

Saya tertawa dan terus menatap wajah Pak Mardi yang asyik menikmati musik. "Kalau gak malu sama cucu, saya pasti sudah ikut joget," kata dia.

"Langit hang dadi saksi, bumi milu nyakseni..."

Saya kemudian mencari makna lagu berbahasa Banyuwangi itu, bersamaan dengan upaya, merasakan kenangan bersama Pak Mardi atau yang namanya Pak Trisno, lupa.

Mulai memahami artinya, melihat folder foto, ketemu. Ketika itu, saya sedikit menganggu waktu goyangnya. Kemudian meminta cucunya memotret kami berdua. Sebagai kenang-kenangan bahwa saya sudah punya kosa kata lagu baru.

Pas ketika goyang biduanita mendendang. "Serange ati insun, serange welas insun..." cekrek, cekrek, beberapa kali kami foto dalam berbagai pose.

Kami berkenalan, dan terus mendedah, apa kakek mengerti makna lagu itu. Dijawabnya, tidak. Apakah tahu judul lagunya, dijawab juga dengan gelengan kepala. Kehadiran saya sepertinya sangat mengganggu kenikmatan mendengar dan melihat dangdut. Pura-pura tak paham, saya terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting. Seperti, sekarang ini siapa ya nama Presiden Indonesia? Dengan penuh keyakinan, Pak Mardi atau Pak Trisno, lupa namanya, langsung menjawab mantap. SBY.

Pemilu lalu milih apa partainya, PDI. Siapa nama walikota Bandarlampung? Ahok. Siapa penyanyi pavoritnya? Rhoma Irama. Sampean apa agamanya? Pas pada pertanyaan ini, dia tajam menatap saya.

Dunia seperti dipause. Berhenti, musik juga berhenti karena masuk waktu dzuhur. Secara, menghindari tatapan tajamnya, saya ngeloyor pergi setengah berlari ke arah kerumunan orang. :-)

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )