Selamat Datang 66.349 Calon Begal
11 April 2017 by: Redaksi - Dilihat 386 kali

PULUHAN ribu anak-anak yang akan lulus SMA sederajat ini, bakal bertarung untuk bertahan hidup. Di Provinsi Lampung, menurut data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan berdasar total peserta Ujian Nasional 2017 jumlahnya ada 66.349.

Mereka, anak-anak kita ini melesat, mengejar mimpi dan cita-cita yang dalam pandangan pesimisme, mustahil tercapai.

Beberapa di antaranya, beruntung karena punya orang tua atau saudara yang mengarahkan agar menjadi ini menjadi itu. Menuntun, agar kuliah ke sini kuliah ke situ. Namun demikian, jauh lebih banyak yang menyerahkan semuanya pada takdir. Pada nasib dan pada setumpuk ketidakberdayaan lain.

Jumlahnya bisa lebih setengahnya dibanding yang bakal melenggang menikmati pergulatan hidup yang baru.

Melewati masa remaja dan sebagai angkatan kerja baru di dunia yang menolak mereka sebagai pekerja. Bercita-cita sebagai dokter, insinyur, pilot, tentara dan sebagainya yang secara mantap diucapkan itu, sembari menenteng map, setelah antre panjang di pos satpam sebuah pabrik, berkasnya dipulangkan. Lalu gontai, jalan menunduk serta mengaku kalah, seperti kisah lagu Sarjana Muda-nya Iwan Fals. Lesu, mengeja pos-pos satpam. "Tidak Ada Lowongan".

Tercatat, sebanyak 22 ribu anak ini, di luar yang kuliah atau melanjutkan ke diploma, akan berhamburan ke Jabodetabek. Bagi yang beruntung, artinya ada saudaranya yang sudah bekerja lebih dulu, punya penjamin dan atau punya orang tua yang bisa "beli tiket" masuk kerja, akan segera diangkat jadi karyawan kontrak, jumlahnya tidak lebih dari 3 ribu anak.

Sempalan dari jumlah 3 ribu anak ini, ada yang kemudian menyebar jadi Buruh Migran Indonesia. Bagi yang berhasil ke Jepang, Taiwan, Korea Selatan dan Amerika, punya harapan untuk masa depan yang sedikit cerah. Yang ke Malaysia atau Timur Tengah, masih bagus bisa pulang dalam kondisi hidup.

Namun demikian, anak yang berjumlah 19 sampai 20 ribu lain? Mungkin bakal kerja informal. Buruh harian, tenaga lepas di bedeng-bedeng proyek dan jauh lebih banyak lagi yang sudah berpikir. "Anak dari Lampung ternyata lebih enak cari uang dibanding cari kerja di Jabodetabek."

Bisa kita bayangkan, generasi muda untuk mencari kerja jadi buruh saja susah? Padahal fakta di kancah dunia, itu kelas negara bangsa yang tak punya industri atau level produsen dalam ranah persaingan global. Pemerintah juga hadir dalam posisi sebagai konsumen, BUMN bergelut akibat tanah dan sistem rampasan yang tugas serta fungsinya tak lebih dari kompeni hitam. Melanggengkan penciptaan agar masyarakat tetap jadi konsumen, obyek dari sebuah eksploitasi kebijakan pembangunan. Kita menemukan relevansi bahwa negara itu abstrak. Direktur BUMN itulah yang nyata. Kemudian pada laporan keuangan BUMN itu, selalu merugi meski kontraproduktif sebab pejabat dan pegawainya kaya raya semua.

Apakah dengan potret buram tentang masa depan kehidupan generasi muda ini kita mendapati anak-anak yang bersedih? Orang tua yang panik dan atau pemerintah yang tergopoh-gopoh membenahi semua lini kenegaraan dengan cemas? Jawabnya, jelas. Tidak.

Bangsa ini, manusia Indonesia, terutama manusia Lampung adalah contoh pribadi-pribadi yang tangguh. Mereka sudah paham, sejak baru menerima tanda kelulusan SMA. Mereka sudah mulai kuat dan terbiasa mengeluk besi. Membengkokkan baja hanya dengan tangan kosong. Bahkan beberapa diantaranya, bisa meliuk-liukkan besi nasibnya yang penuh kemelaratan menjadi tralis yang indah untuk pagar-pagar kehidupan. Hiasan dan pelindung jendela rumah-rumah Tuhan di alam semesta.

Kita tidak akan menemukan puluhan ribu anak-anak Lampung ini mati kelaparan. Hidup menggelandang dan tidur di emperan toko.

Bahkan mereka telah mampu kredit sepeda motor, pakai ponsel pintar yang pulsanya sudah dihitung data perkilobyte. Bukan lagi dihitung per-sms atau perdetik ketika telepon. Lalu mencari Indomart atau emperan kafe, video call dengan keluarganya di rumah menyatakan bahwa dirantau dirinya baik-baik saja. Keluarganya, di rumah senang dan bangga lalu bercerita pada tetangga-tetangganya. Sebab, latar kafe tempat anaknya menelepon, meyakinkan bahawa anaknya sekarang sudah menemukan kemuliaan. Sudah berhasil.

Dalam posisi ketidakjelasan kerja, kemisteriusan pendapatan, anak-anak kita ini punya instagram yang pose dan latar fotonya, banyak mengalahkan selebritas. Yang kicauan dan komentar-komentarnya di lini masa seperti para pakar. Terkadang melampaui profesor-profesor di Universitas yang tak punya satu pun karya ilmiah. Profesor-profesor yang sedang cemas karena tunjangan guru besarnya terancam dicabut. Para profesor kampang yang merusak generasi muda dengan sistem pendidikannya. Soal ini lain waktu kita bahas. :-)

Tolong beritahu, kemana 66 ribu anak ini nanti akan melanjutkan hidup? Masuk partai politik, ikut jamaah tabligh, jadi anak-anak salih karena fatalis, jabariyah, atau bermodal sewa kost sebulan di Jabodetabek lalu bertarung jadi "pemetik" dan atau yang punya keberanian jadi begal? Anak-anak yang sudah punya kebutuhan beli pulsa agar tetap eksis ini kemudian oleh polisi dijeneralisir sebagai begal hanya karena berasal dari Lampung.

Di antara 19 sampai 20 ribuan anak itu memang tetap ada yang beruntung, bisa diterima kerja di perusahaan sepatu, jadi satpam, tukang lipat di pabrik kertas, jaga toko, dan sebagainya. Tetap saja, sering dianggap terlibat maling di lokasi kerja ketika ada kehilangan.

Orang Lampung, begitu lahir langsung dikenalkan dengan Allah yang Maha Besar. Diajak merayakan kemenangan. Kemudian diakhiri dengan pengakuan, ikrar tahlil agar ikhlas menjadi apa pun di dunia ini. Maka, kalau ada anak usia SMA ditanya cita-citanya selalu menjawab penuh keyakinan dengan kalimat; "Ingin berguna bagi agama, nusa dan bangsa." Itu bisa dipastikan, anak dari Lampung.

Mungkin, inilah yang membuat tidak ada anak muda lulus SMA panik, orang tua dicekam ketakutan atas masa depan anaknya yang secara kalkulasi, matematika dan kualitatif, bakal bernasib buram.

Anak lulus SMA begitu tahu orang tuanya melarat, secara sadar dan penuh keyakinan, hanya bermodal tekad, merantau. Tidak pulang sebelum masa mudik lebaran. Orang tuanya pun, melepas mereka. Anak-anak alam itu pergi seperti proses ditundung minggat. Sembari pura-pura bijak menyadur kutipan-kutipan kuno. Para orang tua menyatakan. "Tidak ada anak sukses jika dia tinggal di dekat orang tuanya." Jika di kampung ada contoh anak muda yang sukses. Orang tuanya kembali berkata. "Anak yang sukses dengan tidak merantau, hakekatnya sekadar menghabiskan warisan dari kekayaan orang tuanya." Dan semacamnya, yang semuanya, berbau kesadaran magis serta ancaman.

Lantas kemana nantinya 19 sampai 20 ribu anak yang mengarungi ketidakjelasan nasib ini?

Jika sistem demokrasi di negara kita masih seperti sekarang, merekalah yang nantinya bakal jadi penguasa-penguasa di daerah. Ketua partai politik, pengusaha dan centeng pemilik kebun BUMN yang sudah dirampas orang luar negeri dan jadi kepunyaan asing, beberapa di antaranya sudah ditembak polisi karena ketika dicegat tak bisa menunjukkan surat-surat kendaraan.

Lalu kemana anak-anak yang terarah hidupnya dan kuliah ketika anak-anak lain bertarung mengocok dadu takdir? Merekalah penguasa yang sebenarnya. Sebab, sudah mulus jadi PNS, birokrat dan tekhnokrat. Kepala daerah yang tidak terlatih dalam kultur pembelajar itu akan selalu diperalat, lantas dari mana rumus bangsa ini bisa maju dan besar? Daerah-daerah di Indonesia selalu terbelit anak-anak tanpa kualitas dan kemelaratan.

Parahnya, sekarang berkembang juga ke ranah, banyak sarjana yang jadi pengangguran mutlak.

Kalau lulusan SMA menganggur, dia bakal kerja serabutan sampai jadi pemulung, kuli bangunan, dan kerja-kerja kasar lain, mereka menjalaninya dengan senang hati, tanpa beban. Nah, jika sarjana menganggur? Kemana jika tidak jadi begal? Apa peran pemerintah menyiapkan puluhan ribu angkatan kerja baru setiap tahun ini? Tidak ada. Sejak Indonesia merdeka dan sampai sekarang, anak-anak mesti menjemput takdirnya sendiri-sendiri.  (*)

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )