PERTANYAAN awal untuk orang Lampung, mengingatkan potongan ayat, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan? Terus diulang-ulang dan kalau tidak sedang musim geger tafsir Al Maidah, tentu saya akan iseng-iseng mentadaruskan. Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban. Lalu memperbandingkan apa bedanya kata irobbikuma dengan robb ditambah kata usta?
Maka, nikmat kopi robusta yang manakah yang kamu dustakan di tanah Lampung ini?
Jujur saja saya takut salah dan tiba-tiba nanti diserang menista jika berani mengotak-atik ayat yang dalam satu surat diulang sampai 31 kali itu. Dimana zaman masih rajin mankul, dikaitkan lagi dengan surat ke-31. Ayat ke-31. Kalau tidak salah, potongan artinya. "Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang, yang sangat sabar, lagi banyak bersyukur."
Aih, apa pula itu, mendadak ayat.
Namun begini, sebagai orang yang pernah belajar menekuni perkata, lalu membaca, berusaha menghafal, kemudian mendengarkan terjemah dan tafsir membuat saya mesti bersikap jujur. Bisa dengan legawa menerima kesalahan atau segera memperbaiki jika menemukan sesuatu yang salah. Intinya, tulisan awal soal Lacofest, itu soal Festival Kopi Lampung yang akan digelar pada 7-8 Desember nanti. Dimana saya menulis, kalau dokter kopi, warung yang ada di jalur dua Unila itu tutup.
Ternyata, baru saya tahu, bukan tutup. Tetapi pindah tempat.
Baru sore ini saya masuk dan kembali mencecap kopi robusta di warung yang mengklaim dirinya Dokter Kopi itu. Seruputan pertama, langsung pyar...mata dan kepala berat saya seketika moncer. Bisa lanyah berkisah tentang banyak hal, bahkan seputar nostalgia yang kadang melankoli dan tentu, sedikit memalukan tentang masa-masa muda kami yang nakal dan hidup hanya membaca, menghafal, bicara, kembali membaca, menghafal bicara, terus berulang dalam rutinitas yang sering sangat membosankan, namun indah dirasakan sebab batin selalu tentram. Tanpa geger saling menista, saling klaim merasa benar, apalagi tega mengkafirkan liyan.
Dokter kopi yang pindah di jalan pagaralam itu, memang bukan ukuran warung yang sempurna. Selain parkirnya sempit, tempat duduknya juga berbentuk kotak kayu. Mirip salon di zaman masih sering nonton organ tunggal. Kursi tanpa sandaran, berbentuk kotak, jelas tak nyaman sebab tidak bisa leyeh-leyeh atau meluruskan punggung. Akan tetapi, soal kualitas kopinya, jangan tanya. Kita bisa menderas, sungguh, nikmat robusta mana lagi yang kau dustakan?
Pikiran saya di periode awal tulisan soal Lacofest jika nanti kalau ada lomba tanding barista bisa dimenangkan penjaga Indomaret yang pakai mesin, tinggal pencet muncul amerikano atau pencet tombol kapucino tanpa kerumitan mengepres dan memompa. Melihat penjaga Dokter Kopi memproses ekspreso kopi sekincau, anggapan itu langsung sirna.
Hanya memang, kelas barista-nya tak seperti model warung kopi di jalan suropati Jakarta, yang secara lanyah memanggil nama-nama pengunjung, lalu menghafal pesanan serta mampu merayu menawarkan jenis racikan baru atau metoda sedu yang selalu diperbaharui. Lelaki tegap secara taktis dan efisien memainkan gelas, meracik sembari berkisah sejarah kopi. Termasuk nama-nama metodanya, saya agak mengernyitkan dahi ketika model drip atau saring masih pakai nama vietnam. Enak saja, kenapa mesti memopulerkan negara lain kalau kopi yang disajikan produk Lampung Barat? Kenapa tidak "model sedu liwa", "tubruk sekincau" atau terserah, nama apa yang pasti model variasi kelampungan. Meski kreasi boklam lampu jadi teko dan sloki wiski untuk jadi gelasnya, sudah ada dimana-mana, tingkat inferior kita sebagai orang Lampung yang punya produk robusta berkualitas, mesti didukung pemilik kafe agar lebih kreatif mengadopsi nama-nama model raciknya. Ini soal sepele, menjiplak, namun demi identitas, bisnis dan membangkitkan sentimen cinta daerah, menjadi penting sebagai karya seni perkopian. Apalagi warung itu sudah pakai nama dokter. Sayangnya, Dr. Coffee. Kenapa tidak Mantri Kopi atau Dokter Kupi? Entahlah, itu merk dagang dan saya tak punya hak mencampuri urusannya. Saya hanya senang ada warung kopi di Lampung yang menjual jenis robusta dengan kualitas premium. Jadi, saya tidak merasa malu mengajak teman Jakarta, sebut saja namanya Ahmad Fatoni, bukan nama sebenarnya, yang memesan ekspreso sekincau dan mengaku, mantap. "Untuk ukuran manual, tidak terlalu encer dan nendang. Lumayanlah rasanya," kata teman kita ini.
Ketika menyatakan itu, saya menatap matanya yang pakai kacamata tebal. Sepertinya jujur. Meski soal uji kualitas pengecap dan indera pencium kopi tak sehebat seniman kopi di kampung kami, yang hanya dengan menggenggam dan mencium sudah tahu kadar airnya. Toni, panggil saja begitu, memuji kualitas kopi di warung ini. Entah komentar teman saya yang pesan tubruk, sebab belum saya tanya. Semoga dia bisa komentar rasa, seperti ketika saya ngupi di KM3.
Nuansa warung kopi di pinggir jalan yang ramai ini, cukup menghadirkan kesan eksotis sebab, lagu-lagu jazz yang diputar.
Kalau saran saya, setelah mendengar beberapa kali barista dokter kopi ini menyebut robusta yang menang kemarin, selalu diulang pada para pembeli, sebaiknya itu dibuktikan di ajang Lacofest nanti. Meski saya bukan panita, bukan juri, namun sebagai warga Lampung yang hobi ngupi, saya merasa punya hak untuk ikut sumbang saran. Kalau kalah, harap maklum jika saya menyebutnya mantri kopi kampungan. Bukan dokter coffee. :D
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.













Add a Comment