Mengenang Zaman Slulup di Kali
17 April 2017 by: Redaksi - Dilihat 507 kali

BEBERAPA hari ini, bahkan sudah lebih sepekan, saya diterjang kemarahan hebat. Marah yang mengubah wujud saya menjadi api. Yang keluar dari mata saya adalah nanar kebencian. Yang terucap dari mulut, caci maki dan ujaran penuh hardik.

Berbagai cara sudah saya lakukan agar reda dan padam kemarahan saya. Namun tak pernah berhasil. Kemarahan yang membuat saya benar-benar hilang kendali dan berkali-kali duduk, berbaring, lalu berdiri. Terus berulang-ulang. Nyaris tak pernah bisa tidur.

Saya mencoba meredamnya dengan berwudhu, lalu salat. Tidak juga reda. Justru semakin membuat dada sesak. Api itu bukan hanya menjalar di kepala dan memanggang ubun-ubun, malah melebar ke dada yang semaki membuat nafas saya tersengal-sengal. Kemarahan yang tak bisa saya redam. Sampai malam ini, saya memakai peci yang langsung dibeli dari Makkah. Peci yang sengaja saya titip ketika seseorang naik haji beberapa tahun lalu. Alih-alih sembuh, justru kepala saya semakin gatal. Membuat anak-anak justru keheranan karena melihat saya memaki peci.

Akhirnya, westafel di pojok ruangan saya nyalakan, pembuangan airnya saya tutup. Dan kepala saya celupkan sampai beberapa menit, sembari terpejam. Sesekali menyesak dan mengangkat kepala. Menyemburkan nafas yang bercampur air. Hoss....

Begitu terus saya ulang dan berlama-lama. Aroma air kran itu mengingatkan saya pada masa-masa slulup dan jeguran di kali. Sungai berair deras yang terletak di pinggir kampung kami itu, menjadi saksi bahwa saya pernah sangat piawai menyelam. Tahan bermenit-menit dan selalu hilang ketika lomba slulup. Sebab, saya bisa merangkak di lumpur dengan cepat, lalu mencari persembunyian untuk melihat siapa saja yang sudah mengeluarkan kepala dan mengaku kalah.

Saya ingat, sepulang slulup pasti dimarah karena mata memerah, rambut meranggas bercabang dan kulit mbusik bersisik, bisa dipakai menggambar.

Dilaranglah setiap kali pergi memancing. Sepulang sekolah, pasti dibebani setoran ayat dan hafalan Mihatul Irob atau Nazham Imrithi lalu mengembang bagaimana saya memilih metoda amtsilati dibanding berlama-lama menghafal Alfiyah. Apakah dengan beban setumpuk hafalan itu membuat kami, anak-anak dusun tak lagi pergi jeguran? Tidak. Penambahan hafalan hanya membuat kami pandai mengatur siasat untuk pamit jeguran dengan berbohong. Tidak ada kebahagiaan, selain merasakan gurihnya udang air tawar yang kami dapat dengan cara slulup. Tidak ada keberhasilan dan sukses yang kami rasakan melebihi kemampuan kami gogoh dan mendapat ikan gabus. Perjuangan mencarinya, terasa jauh lebih berat dibanding kenikmatan rasa amisnya. Meski menjelang asar, biasanya selalu terlambat pulang membuat kami mesti menerima hukuman. Dicelupkan kepala di jeding tempat kami mengubak atau sabetan rotan di paha yang nylekit dan pedihnya masih terasa.

Ketika menenggelamkan kepala di westafel itulah saya merasa, cara biadap membunuh anak-anak adalah kejahatan yang semakin membuat saya marah dan tak bisa berbuat apa-apa. Lalu saya mengenang omongan komandan beberapa bulan lalu. "Kami mesti keras dan memerintahkan tembak di tempat. Sebab, lihatlah kebiadaban dan sadisnya mereka."

Komandan itu pernah menunjukkan foto-foto korban pembegalan. Kemudian dibuatlah Regut Tekat, eh Tekab. Kemudian, komandan itu menyadari bakal berbuat ganas, keliling untuk memperingatkan semua orang terutama tokoh-tokoh masyarakat agar mengingatkan anak-anak muda yang salah jalan dalam menempuh perburuan udang air tawar.

Apakah hasilnya efektif? Apakah orang tua kami yang membebani dengan setumpuk hafalan dan hukuman, lalu dengan kekerasan melarang jeguran itu berhasil? Sama sekali tidak. Yang ada adalah tumpukan kebencian dan kepandaian bersiasat untuk membalas.

Lantas bagaimana oknum polisi yang berbuat sadis melampaui laku begal itu? Bebas. Nyaris bisa dipastikan. Apakah lima mayat itu dipastikan begal? Ada rentetan adu tembakan? Siapa pun yang mengikuti kronologisnya, lima anak itu adalah korban. Namun beginilah kita senantiasa membuat hukum dan kengerian-kengerian lain seperti berkalindan. Lestari dan semua bebas melenggang tanpa tanggung jawab. Nyawa manusia dan masa depan sebuah daerah dilekuk dalam satu kata. Kekejaman.

Barusan, setelah kepala saya cukup lama kungkum dan slulup di westafel, teman saya mengirif foto dua, diantara lima anak yang dibunuh polisi itu. Kedua anak itu, masih memakai seragam sekolah. Keduanya menghadap guru dan difoto. Wajah polosnya menyiratkan almarhum adalah anak yang terbebani stigma dan hukum yang sudah menyetempel mereka sebagai orang jahat.

Mayat dijajar seperti bajing yang habis diburu Lek Tekat. Siapa pun akan marah melihat kelakuan model begini. Sama dengan marahnya saya dan kawan-kawan, bagaimana mungkin seorang anak, hanya karena jeguran dan mencari ikan, dihukum dengan pukulan-pukulan kayu singkong. Saya masih ingat, hanya Lek Tekat orang tua di kampung kami yang mendukung bahwa renang di kali adalah cara olahraga yang ideal.

Tahukah bagaimana caranya agar kami sadar tak jeguran di kali lagi?

Saya masih ingat. Dulu, ayah saya mengajak keliling dengan menyusuri aliran sungai kecil yang melingkari kampung kami. Tepat di sela-sela sungai yang padat rumah, ayah menceritakan tentang lokasi buang hajat dan cara mereka membuang sampah. Di tumpukan sampah yang ada di bantaran sungai itu, ayah mengambil kaleng pestisida dan menunjukkan pada saya. Lalu panjang lebar menjelaskan racun yang dikandung kaleng sampah itu. Bahayanya jika masuk ke perut dan semacamnya.

Kali ini beracun. Jadi, anak-anak berbahaya jika mandi di sungai. Lantas, di tengah kampung dibuatlah kolam renang. Anak-anak tak perlu lagi jeguran di kali untuk menikmati slulup.

Kekerasan dan kebiadaban yang dilakukan polisi, hanya menimbulkan Bom Waktu. Namun membiarkan juga menjadi masalah. Formulanya, mesti membuat penyadaran dengan penyuluhan dan membuatkan kolam renang. Agar tetap bisa slulup dan merasakan nikmatnya ikan kali. Artinya, lapangan pekerjaan. (*)

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )