Mister Kim, Percayalah kalau Gula itu Manis
25 Juli 2016 by: Redaksi - Dilihat 322 kali

AWAL mengulas kisah Mister Kim, ingin langsung menebak nama lengkapnya. Sebab tahu nama aslinya, Hakim. Orang Lampung yang bernama Hakim, hanya punya dua pilihan. Abdul atau Lukman sebagai awalan.

"Benar, nama saya Lukman Hakim," kata dia.

Nama Kim, belakangan cukup jadi buah bibir karena punya karya mengejutkan. Beberapa seniman senior langsung menemuinya, dan keterkejutan itu mulai memudar. "Oh, Kim, Hakim, kalau dia mah saya kenal sudah lama, dia memang seniman musik," kata Saiful Irba Tanpaka setelah keduanya bermuka-muka.

Pada obrolan kedua itulah, Lukman Hakim melontarkan gagasan perdamaian dari Lampung untuk dunia. Bahasa dia; "From Lampung to the Peace of Word" yang isinya, bagaimana perdamaian itu lebih membumi, perang di berbagai negara, daerah, konflik beragam motif, semestinya tak berdampak ikutan. Khususnya bagi anak-anak yang tak mengenal apa itu perang.

Perdamaian itu, harus disuarakan dari Lampung. Sebab, Lampung modal sosial untuk menginisiasi perdamaian dunia, punya kausalitas dan relevansi yang menguatkan.

Di bumi ruwa jurai ini, kita pernah terlibat bentrok berunsur SARA. Sering terjadi letupan saling serang antarkampung, rumah-rumah dibakar. Anak-anak berlarian.

Pandangan Kim, anak-anak tidak boleh terlibat perang. Alasan dan dengan dalih apa pun. Bahkan, penyadaran atas berbagai tindakan beda pemahaman, harus dibuat sebagai bentuk proses atas perdamaian yang sebenarnya. Termasuk, anak-anak bisa menjadi subyek perdamaian ketika perang.

Kita harus bersama-sama menyuarakan ujaran dan ajaran tanpa kebencian pada anak-anak. Meski tak menutupi apa itu perbedaan terkait SARA.

Demikian catatan yang saya rangkum malam ini, setelah kembali saya berkesempatan berbincang-bincang dengan Lukman Hakim yang sudah diperkenalkan Isbedy Stiawan ZS. Penyair yang saya kagumi.

Kim, bukan sekadar mendedah apa itu We also have a dream as same as your kidsWould there be a hand in hand as the children Of the world dan from Lampung to the peace of word. Lebih dari itu, dia menceritakan pertemuannya dengan Wakil Gubernur Lampung tentang pentingnya sebuah karya lanjutan. Karya yang tidak berhenti dan puas dengan puji-pujian namun setelahnya, tanpa kreasi. Habis.

Kim bisa mencipta lagu, mahir bahasa inggris, paham apa itu kengerian perang dan ancaman paling mengerikan di dunia, cakap bermain gitar sekaligus bisa menyanyi dengan penghayatan. Children with No Land harus dijadikan karya pembuka, bukan yang terakhir.

Kiprah Kim, mulai terlihat ketika membersamai Klub Dakocan, satu-satunya penggiat dongeng di Lampung yang digawangi keluarga Ivan Bonang saat momentum Peringatan Hari Anak, beberapa hari lalu.

Kim telah menunjukkan keberpihakkannya atas dunia seni musik yang membela dan menyuarakan hak anak. Arti namanya, Lukman, disebut sebagai nama nabi yang punya jalan jelas, sementara Hakim adalah arif nan bijaksana.

Lukman Hakim adalah nama asli Mister Kim. Bukan saja selama ini tersembunyi di balik kemisteriusan. Namun beliau sudah sangat familiar dengan banyak orang, terutama kalangan aparat kepolisian yang mendalami bahasa inggris. Jejaringnya menembus pekon dan langsung terhubung ke sendi-sendi paling sakral, garis komando tertinggi serta mampu melampaui selubung ketidakterlihatan.

Beliau memanggil saya brother. Namun saya kebingungan ketika harus memanggilnya apa? Pagi ini, saya menemukan jawaban. Memanggilnya dengan sebutan, mutiara Lampung yang konsen menyuarakan perdamaian dunia.

Sebagaimana lazimnya selebritas, Kim, telah membius saya untuk terus menantikan karya-karya yang lain yang berkelas dunia tetapi berpihak pada anak-anak dan kemanusiaan, berasal dari tanah kita, bumi Lampung. Meski kemudian kita perlu mempertanyakan, kenapa harus merapat pada penguasa jika dengan kekuasaannya, tak memperhatikan seni. Sisi terpenting dari kedaulatan penguasa itu sendiri.

Pilihan hidup dalam berkesenian, bukan berarti antipenguasa. Namun lebih dimaknai sebagai kemerdekaan. Kita layak berpesan, jangan sampai berhenti berkarya hanya karena dirangkul penguasa. Jangan sampai kedekatannya dengan penguasa justru mematikan nalar kemanusiaan dan keberpihakan pada warga marginal seperti anak-anak yatim yang dihiburnya bersama keluarga pendongeng beberapa hari lalu.

Pencipta lagu, pemain musik sekaligus penyanyi yang dimiliki Mister Kim, harus menjembatani itu semua. Lampung butuh orang-orang sekaliber Kim untuk bangkit dari stereotip dan stigma buruk di mata masyarakat dunia. Namun penyuaranya harus tetap menjejak bumi.

Kim suka minum kopi. Rasa kopi asli Lampung, pahit. Meski kita dan semua penghuni dunia ini tahu, kalau gula rasanya manis. Pahit dan manis adalah dinamika sekaligus dialektika. Selepas kita berbincang malam tadi, saya harus berpesan, ingatlah rasa kopi ketika merangkul gula. Dan ingatlah rasa gula ketika berangkulan dengan kepahitan hidup. Jangan lupa. Kebanyakan gula, mengundang semut. Bukankah ada pepatah, gula semut mengada dalam kelampungan?!

Menarik kita ingat petuah Paus Sastra Lampung Isbedy Stiawan ZS di wall fb-nya: "Apa pun yang kita lakukan--bahkan kita katakan--sejatinya untuk menguatkan pribadi kita, karakter, dan bahkan demi menunjukkan eksitensi. Pada gilirannya, jika kita alpa dan atau tak cepat-cepat menyadari, sesungguhnya kita sedang meminta (mengharap) pengakuan. Diakui keberadaan kita. Perjalanan berproses serasa menjadi tak penting."

 

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )