Mulut Kotor Walikota, Sebuah Cerita Fiksi
27 November 2016 by: Redaksi - Dilihat 467 kali

WALIKOTA itu memang sudah mulai kehilangan kendali. Mabok. Bukan saja tipis kuping, sekarang sudah mulai sempurna sebagai ejawantah pribadi yang maha berani. Sebutan halusnya, setengah gila.

Saya masih ingat, pagi-pagi suara ponsel berdering. Mengundang agar segera ke rumah dinas walikota. Kejadiannya sekitar akhir 2013.

Dua teman saya sudah di rumah itu. Saya masuk dan duduklah kami berempat. Tanpa basa-basi. Walikota itu terlihat meradang. Dia tak lagi mengenakan peci hitam yang jadi ciri khasnya dan sudah berminggu-minggu mejeng di halaman utama koran terbesar di kampung kami. Di koran-koran lain, tampil di rubrik halo walikota. Semua, menampilkan foto yang sama.

Pagi itu, dia berbeda dengan wajah di foto-foto yang tersebar luas hingga warung-warung di pelosok kampung.

Pagi itu, dia tak mengenakan peci. Rambutnya mengkilat, disisir belah pinggir. Mengenakan jaket, langsung menyambut mata sembab saya dengan kalimat-kalimat tajam. "Apa maksudmu menulis ini?" Lalu menyebut nama-nama. "Jangan macam-macam sama saya. Saya bunuh anak ini nanti!"

Tentu saja saya tidak kaget, seperti biasa. Sekadar cengar-cengir. Lalu dia membacakan koran di halaman pertama. "Apa maksudnya saya dikasih sabun dan sekaleng susu ini, apa setelah dari kamar mandi pakai sabun, lalu disuruh minum susu biar sehat?"

Kurang lebih begitu kalimatnya, persisnya, lupa. Nama narasumber dalam berita itu dicarinya, hendak dibunuh. Tentu dengan mimik serius yang menurut saya, tegas sekaligus lucu. Seorang walikota di depan tiga orang yang tak dikenalnya, yang notabene warganya, mengancam akan membunuh warga yang memprotes laku pembagian sabun dan sekaleng susu.

Dengan berusaha santun dan kalimat yang lembut, saya menjawab. "Bapak ini, ah, jangan begitulah. Masak orang yang akan menghuni mahan agung, mau membunuh orang, sudahlah Pak, jangan dicontoh jenderal itu, tak ada gunanya ancam mengancam itu sekarang ini." Kira-kira begitu kalimat saya, persisnya, lupa.

Namun suasana tegang mereda. Dan seketika dijawab sang walikota. "Ya sudah, kalau begitu saya maafkan."

Tentu saja saya bingung, siapa yang meminta maaf dan apa maksud panggilan di pagi buta itu. Pertemuan bubar dan kami bertiga sempat tertawa-tawa di depan pos jaga yang terletak di sebelah gerbang rumah yang di sisi ujung kirinya, mushala.

Sebelum akhirnya, di depan dua teman, saya menyilangkan ujung jari di kening yang sudah pakai helm. Dua teman saya tertawa, pulang ngebut sembari mengenang, sebenarnya saya atau walikota itu yang gila.

Tak lama sebelum kejadian itu, saya pernah hadir di ruang lantai dua di sebuah rumah yang letaknya, masuk gang sempit. Banyak orang-orang penting sudah ada di dalamnya. Dari berbagai pembicaraan, saya menemukan kalimat kunci dari pimpinan media terbesar di kampung kami. Kalau tidak salah, saya jadikan judul berita dan masuk di halaman dalam untuk koran esok harinya. "Melarang Liputan Adalah Kejahatan" yang sorenya, digelar kembali pertemuan di kantor walikota.

Dia bercerita, kisahnya yang terus menerus disalahkan. "Saya punya keluarga, punya anak istri, yang semua baca koran itu, ini belum kejadian, sudah ditanya ke jaksa, ke jakarta, seolah-olah saya sudah dihukum bersalah..lalala..la..." entah apa lagi, saya lupa persisnya ucapan walikota.

Singkatnya, walikota itu sangat terkenal, kasar dan tajam kalimat-kalimatnya. Namun di sisi lain, terkenal baik. Menurut cerita teman saya yang selalu mengikutinya, selalu kenyang diajak makan. Akrab menyapa para pedagang, tanpa segan, ikut makan pecel di pinggir jalan, memborong kue, lalu semua rombongan yang mengintilinya, makan dengan bebas dan puas. Dia leluasa berbincang dengan warga biasa, merangkul tubuh dekil tukang bangunan, menyalami perempuan sepuh penuh khidmat melayani di depan rumah gribik warganya, dan lain sebagainya yang lalalala...

Bukan hanya itu, di kalangan ribuan guru honorer yang pernah dikumpulkan dalam satu gedung, dia juga mengumbar berbagai janji manis, menambah tunjangan yang lalalala...ratusan guru honorer di setiap zona, antre berdesak-desakan seperti penerima BLT setiap tiga bulan sekali. Tentu saja dengan potongan yang dianggap ongkos bagi yang membagi.

Walikota itu, setiap hari turun ke jalanan. Dari menanam nangka sampai berbuah, meminta jalan dilebarkan dengan langsung datang ke empunya ruko. Menaikkan pajak dan sampai semua jalan-jalan lorong, halus dan dibangun semua. Meski tiga bulan kemudian berlobang lagi, namun walikota itu benar-benar menabur pesona, tentu saja pesona kosong juga.

Singkatnya, dia maju pemilihan gubernur. Kalah. Namun kemudian menang mudah ketika maju walikota untuk periode kedua.

Dia tidak seperti periode pertama. Jarang turun menyapa warga lagi, bahkan kebijakan awal, seolah tahu titik-titik dimana dirinya menang tipis atau kalah dari pesaingnya. Dibuatlah rekayasa lalulintas yang bukan justru memperlancar kendaraan, malah mematikan usaha warga yang diakibatkan ide rekayasa lalulintasnya.

Jalur-jalur yang pernah mengalami kejayaan sebagai ruko, setelah dibangun jembat layang, tutup dan mati. Banyak warga masih mempermaklumkan sebagai dampak dari pembangunan. Para ahli transportasi menyebut jembat layang bukan solusi atasi kemacetan, langsung ditimpalinya dengan model orang yang tahu segalanya. "Ahli apa, tolol. Hanya bisa ngomonng."

Mungkin dia memang butuh minum obat, bukankah tugas ahli memang hanya untuk ngomong dan menganalisa kebijakan?!

Entah, sebagai petarung sejati atau orang yang berusaha membangun strategi politik, walikota itu kembali mengulang ucapan-ucapan kotornya yang sudah lama sublim, kini, lebih banyak aktivitas yang tidak lagi membersamai rakyat kecil. Mungkin dia lupa kasus akibat ucapan-ucapan kotor seseorang, bahkan dimaksudkan untuk sekadar lawak atau humor sekalipun, bisa memicu tertawa yang hadir namun berdampak aksi jutaan orang turun ke jalan. Menuntutnya secara hukum. Ucapan kotor jika orang model saya yang sering duduk bareng sopir angkot sepi penumpang, tentu bisa dimaklumi. Akan tetapi jika diucapkan pejabat publik yang digaji pakai uang rakyat, yang sudah menaikkan pajak dan buat KTP-elektronik saja sulitnya setengah mati? Layak disumpal dengan sampah yang memenuhi kali akar.

Walikota itu mungkin lupa, saat ini era medsos yang semua bisa terdistribusi dengan cepat, diketahui secara luas. Dan ingat, dia bukan jenderal yang pernah jadi bosnya, yang sistem hirarki dan strukturalnya jelas dan tegas, yang semua orang mengangguk dan menjawab. "Siap Ndan!" Dimana orang tertawa ketika dibilang beruk, tembak kepalanya, goblok, lalalala....

Mestinya, ruang dan waktu yang ada di periode kedua ini bisa dijadikan ajang instropeksi atas kekalahan-kekalahan, kemenangan-kemenangan, politik dan segala bentuk interaksinya sebagai tokoh publik. Bukan justru membuatnya sebagai orang yang bermulut kotor. Menunjukkan jengkel di hadapan kamera dan juru tulis yang merekam. Ah, izinkan saya bertanya. Bapak sehat?

Kalimat yang diucapkan teman saya beberapa bulan lalu ternyata cukup mengena. "Saya ini pendukung walikota, tapi malah selalu dianggap musuh." Dan akhirnya saya hanya menasehati dia dengan kalimat singkat. Dia memang begitu orangnya. Kuping tipis, arogan, merasa benar sendiri, pintar sendiri, dan kadang-kadang, lugu. Teman saya menimpali. "Apa itu lugu, lucu dan dungu ya?"

Saya tak menjawab, tidak membenarkan. Hanya menyatakan. "Itu ucapanmu. Bukan ucapanku, tolol."

Kami tertawa, saya bilang dia tolol karena saya tahu, dia tak merekamnya. Lebih penting lagi, dia tak sedang bermusuhan dengan saya.

Sayang ya, walikota itu seperti phobia dan selalu mendapat bisikan, semua orang adalah musuhnya. Meski sebenarnya, yang dianggap musuh adalah pendukungnya. Mungkin karena tak pernah menyapa pedagang pecel, penjual kue di kaki lima, berkeringat melihat macet, bermantel memantau banjir, membuatnya tumpul nurani dan lupa menyarungkan badik.

Ah sudahlah, toh ini hanya cerita fiksi. Tolol. :D

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )