Superholding dan Penjajahan Setelah 71 Tahun Merdeka
14 Agustus 2016 by: Redaksi - Dilihat 469 kali

MENDADAK ingat wacana superholding. Namun kita tak perlu khawatir, kita sudah sangat berpengalaman dijajah bangsa luar. Tidak ada yang tabah dari semua penduduk bumi ini, melebihi kekuatan bangsa kita dari sisi menerima keterjajahan.

Jangan cemas, biasa saja. Toh, selama ini memangnya negara hadir di tengah permasalahan hidup kita?

Tepat pada 14 Agustus 2015 lalu, saya berkisah tentang "Lek Tekat di Kasus Dwelling Time". Namun sebelum membacanya, ada baiknya kita bahas kasus superholding dan upaya menghapus Kementerian BUMN.

Saya pernah mencabut tulisan seputar cina karena banyak teman yang ahli hukum menilai tulisan itu berbau SARA dan penuh ujaran kebencian. Akan tetapi, setelah membaca tulisan dan upaya permakluman kenapa serbuan buruh cina masuk di Indonesia, saya merasa ada yang tidak diungkapkan secara jujur. Terutama, terkait Lampung sebagai kampung halaman saya.

Termasuk di dalamnya, silahkan dicari sendiri siapa yang kini menguasai armada tol laut, bibir pantai, dan pelabuhan-pelabuhan kecil di sepanjang pantai Lampung yang biasa menyandarkan kapal-kapal modern.

Kalau tulisan yang saya cabut beberapa waktu lalu, terkait dengan Bandarlampung dengan menyebut nama Hartarto Lohjaya, Herman HN dan pengeruk gunung. Ah, sudahlah.

Sekarang kita ulas perusahaan cina di Lampung Timur. Namanya, CNOOC. Kepanjangan dari China National Offshore Oil Corporation. Yaitu, perusahaan minyak dan gas bumi (migas) terbesar ketiga di Republik Rakyat Tiongkok setelah CNPC dan Sinopec.

Perusahaan ini memiliki hak eksklusif untuk melakukan ekplorasi dan eksploitasi minyak mentah dan gas alam di lepas pantai RRC. Artinya, CNOOC sangat berpengalaman menyedot migas di laut lepas. Dimana sahamnya, 70 persen punya pemerintah RRC.

Perusahaan itu, sudah lama mengeksplorasi migas di Lampung Timur. Beberapa orang yang saya tanya, tidak tahu. Termasuk anggota DPRD Lampung Timur. Intinya, banyak yang tidak tahu kalau Lampung punya migas yang disedot CNOOC. Kontraknya, kabarnya bakal habis pada 2017 nanti.

Dari data yang ada, Chairman CNOCC Limited pada April 2014 lalu adalah Wang Yilin. Wang adalah insinyur yang sudah meraih gelar doktor di bidang migas, lebih dari 30 tahun berpengalaman di industri migas Cina. Wang menjadi Ketua CNOOC sejak April 2011. Ah, soal Wang nanti kita ulas pada tema yang lain.

CNOCC menjadi salah satu Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) Hulu Migas dibawah pengawasan dan kendali SKK Migas. Lantas apa kaitannya antara superholding, kekuatan laut orang Cina, kekayaan reklamasi pantai, dan berbagai perusahaan pengeruk pasir itu? 

Begini, rencana pembentukan superholding dan pembubaran Kementerian BUMN itu berusaha untuk merusak budaya kerja yang sudah ada di BUMN. Karena hanya menggabungkan BUMN tanpa pertimbangan bisnis. Hadirnya Kementerian BUMN itu tujuan awalnya agar semua perusahaan plat merah transparan dan akuntabel.

Kalau alasannya mencontoh Malaysia dengan Khasanah dan Singapura dengan Temasek, lantas Kementerian BUMN jadi superholding yang dijadikan dalih menteri Rini Soemarno, apa ini tidak salah? Selain konsep superholding yang banyak dikeluhkan tidak jelas, kalau menurut Mantan Ketua Tim Reformasi dan Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi (RTKM), Faisal Basri. Pertama, akuisisi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk oleh PT Pertamina (Persero). Dan kedua, konsolidasi perbankan syariah.

PGN merupakan perusahaan yang sudah go public. Artinya relatif lebih terbuka, transparan, dan bisa diawasi, ketimbang Pertamina yang punya catatan kelam, terindikasi mafia migas. Pertanyaannya, bagus mana antara PGN dengan Pertamina? Di Pertamina ada mafia migas dan belum go public. Sementara PGN sudah go public dan datanya mudah diakses.

Banyak yang berasumsi kemudian, superholding hanya untuk mensinergikan semua BUMN energi. Artinya, semakin mudah dan lincah berbisnis, karena hanya dengan satu klik, mencaplok semua tambang migas. Dan kemudian, Pertamina yang masih mencurigakan itu, mengelola semua tambang. Baik yang ada di daratan maupun lautan.

Khusus yang di laut, siapa yang sudah mengusai tol laut dan tambang di laut lepas? Tak perlu dijawab, silahkan baca di awal tulisan ini. Nantinya, meski punya banyak tambang migas, namun warga akan semakin sering mengalami krisis migas.

Bayangkan, penguasa transportasi laut sudah dikendalikan "naga", empunya kekuatan dan keahlian menyedot migas di kedalaman laut juga dimiliki CNOOC. Artinya, selesai sudah kekayaan alam kita yang nantinya hanya bisa teriak-teriak di bibir pantai. Aduh, bukankah masuk ke pantai juga sudah mesti bayar karena telah direklamasi dan jadi pulau-pulau buatan?

Lebih jauh, anak-anak kita nantinya semakin sulit makan ikan laut karena sulit ditangkap, kalau pun ada, harganya mahal dan warga biasa tak mampu beli. Jadilah generasi lemah, tanpa nutrisi, koplo dan kurang gizi. Kisah tentang pandai dan hebatnya anak-anak pulau pisang, anak-anak pesisir yang kini mulia di Jakarta, alamat tidak ada lagi karena jarang makan ikan. Mendadak, kuduk saya berdiri, merasa ngeri membayangkan kelangsungan hidup kita yang sudah merdeka 71 tahun.

Lek Tekat di Kasus Dwelling Time

SEBAGAI orang kampung, bahasa tutur yang saya pahami hanya dialek keseharian. Bahasa inggris bagi saya, bahasa gila. Lain tulis lain baca. Demikian itu disebut Lek Tekat dalam perbincangan senja hari, di bawah pohon sawo sambil meneguk teh adat, pait dan sedikit getir.

Lek Tekat, banyak cerita seputar samurai dan naga. Segelintir orang namun mampu membuat pengaruh dan menguasai hampir lebih separo perekonomian. Lek Tekat bergegas masuk ke rumahnya, saya tak diajak masuk. Melongo di bawah pohon sawo. Lalu dia keluar membawa kaleng. "Lihat ini, ini sirup dan buah dari tanah kelahiranmu, tapi apa kau pernah makan buah yang banyak vitamin c-nya ini?"

Saya hanya diam, jangankan itu, gula saja yang saya minum jenisnya siklamat atau rafinasi. Apalagi buah macam kalengan itu, meski kami menyebutnya nanas. Akan tetapi saya tak ingin larut dalam jebakan lokalitas yang sering membuat Lek Tekat semakin tersakiti, sebab kerja seriusnya membenahi harga-harga, distribusi barang dan ekspor-impor demi kedaulatan, bukan saja tak dihargai. Justru dijadikan tumbal "seolah-olah".

Lek Tekat mengakui tak suka bahasa inggris. Alasannya, dia kesulitan bertutur karena hidupnya penuh peluh. Selalu bergerak dengan tenaga dan pikiran dibanding cuap-cuap. Termasuk menulis, Lek Tekat cenderung memakai huruf steno. Dengan sedih, dia berkisah dua kekuatan yakni, samurai dan naga mulai gerah karena kebijakan perang Lek Tekat.

Terucaplah dwelling time. Saya mencari tahu apa itu "dwelling time" yang sempat membuat marah orang paling berkuasa dalam hal-hal yang tak penting. Urusan penting seperti bagaimana agar minuman teh adat, diurus samurai dan naga.

Bagaimana samurai dan naga tak marah, ucap dia pelan dan sedikit tertunduk. Pintu masuk dan antek yang bisa mengatur barang, mulai dicokok satu persatu. "Kau masih ingatkan, dulu ada orang dari kampungmu yang mau maju jadi gubernur DKI, gegara bisnis impor elektroniknya dicokok? Yah, meski tak tersangkut hukum, minimal dia bisa urung terjun menjadi demang di ibukota," kata Lek Tekat mulai mengeras.

Alih-alih saya paham ungkapan itu, maksud dan tahu arah pembicaraannya pun tidak. Saya hanya asyik menyeruput teh adat, yang pait dan sedikit getir.

Saya kemudian banyak bertanya, berati yang diperangi itu yang melindungi penguasa? Berarti yang dirugikan dwelling time itu samurai dan naga?

"Tidak, saya dekat dengan samurai, sementara penguasa dikendalikan naga."

Perbincangan itu terus terngiang hingga terpaksa, saya update status. Jika ingin berkuasa saat ini, dekat-dekatlah dengan naga. Sementara jika ada naga hendak menumbangkan kekuasaanmu, pesan Lek Tekat, ajak gabung antek yang dekat dengan samurai atau minimal, punya majikan naga juga.

Sebulan kemudian, tersiarlah kabar; Panasonic dan Toshiba Hengkang dari Indonesia. (*)


<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({
google_ad_client: "ca-pub-1095446486393148",
enable_page_level_ads: true
});
</script>
 

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )