SAYA baru bangun, subuhan dan membaca tulisan "Kota Metro untuk Siapa?" membuat harus ikut menulis surat pribadi ini kepada Bapak Yeteha. Pak Walikota Metro, Chrisna Putra.
Pak Chrisna, Walikota Metro, jangan bilang-bilang ya, kalau saya pernah nulis surat. Begini, lho, Pak, ceritanya. Saya baru dari Metro Kibang, lewat kota yang bapak pimpin itu, namanya sama, Metro tapi tidak ada kibangnya.
Saya senang sekali, Kota Metro sekarang sudah maju. Ramai, wes rejo dibanding zaman kolonial yang pakai penamaan sistim patok seperti 21, 22, 16 c yang sampai sekarang tak saya pahami lokasinya. Orangnya juga sudah tergesa-gesa semua, lampu merahnya lumayan lama, jalanan padat. Oya, Pak. Dulu saya kalau lewat pagi hari, sekitar tahun 2007, orang-orang itu di depan rumahnya masing-masing sibuk membersihkan got, jalan, menguruk tanah yang berlobang, apalagi setiap hari Jumat. Dan bagi saya itu aneh. Di zaman ultramodern, kok masih ada ratusan warga yang gotong royong. Termasuk yang baru-baru ini, mereka gotong royong membangun jembatan, di sana juga ada Pak Walikota, Chrisna Putra.
Saya juga sempat mampir ke rumah beberapa teman, minta kopi dan keberkatan sebagai pejalan, di tambah hujan, jadi agak lama saya berbincang.
Teman saya ini, bukan golongan elit, Pak. Bukan pejabat, politisi, atau orang yang punya kemampuan lebih sekelas Pak Walikota, Chrisna Putra. Dia seperti saya, warga biasa yang punya kekuatan kalimat. "Dipecat 100 kali juga tetap, sebagai masyarakat."
Artinya, tak punya kepentingan apa pun selain kegelisahan, kalau Pak Walikota, Chrisna Putra mulai ngawur membuat kebijakan, semakin terlihat, Pak Walikota Chrisna Putra ini tak paham kondisi kota.
Bapak punya facebook, melek internet, semoga saja tidak pakai akun yang digerakkan admin. Jadi bisa baca langsung. Begini, maksut surat saya Pak, kan Metro itu sudah dikenal ke seantero Lampung sebagai Kota Pendidikan. Anak-anak jebolan SMP dan SMA dari semua daerah, pindah ke Metro itu untuk menempuh studi. Ada yang di SMA, SMK, kuliah dan bahkan sekadar kursus, harus ke kota yang Anda pimpin ini.
Teman saya yang lain, yang pernah berbincang soal kota juga bukan orang terpelajar. Dia hanya tukang parkir di Pasar Tejoagung. Tukang parkir ini bilang begini. "Ini walikota sepertinya tidak paham, empat tahun lagi, tidak ada anak-anak yang dari luar kota ini, kuliah di sini, bisa-bisa Metro ini dicabut dari status kota, jadi kecamatan untuk Lampung Timur atau kembali menginduk ke Lampung Tengah."
Saya sudah membela Pak Walikota Metro, Chrisna Putra, dengan bilang. Itu tidak mungkin. Sembari sedikit membentak, tahu apa kamu, tukang parkir!
Eh, dia ngotot. Katanya, Pak Walikota tidak paham kalau Metro itu kota pendidikan dan warganya sudah menggantungkan hidup dari sektor perdagangan serta jasa. Ini, kampus lain dari universitas yang besar kabarnya tidak bisa ditempatkan di Kota Metro tapi dipindah tempatkan ke Kota Bandarjaya. Oya, tahu kan, Pak Walikota Metro Chrisna Putra, Bandarjaya itu hanya kecamatan yang ada di Kabupaten Lampung Tengah? Kalau belum tahu, nanti saya ajak jalan-jalan ke daerah Pubian atau di kampung saya, Buyut Udik.
Coba bayangkan, nanti kalau yang kabarnya bakal besar itu jadi ada di sana, di Bandarjaya. Mahasiswa bergeser ke arah kecamatan itu. Metro jadi kota yang sepi, apa jadinya coba, kalau kota pendidikan tak ada pelajar dan mahasiswanya? Saya hanya takut Pak Walikota Metro Chrisna Putra kesepian, lalu berpikir kembali ke desa asal atau malah pindah ke Bandarlampung? Yang sudah maju dan lebih menjanjikan sebagai kota pendidikan karena punya Unila, Itera dan IAIN.
Lalu mahasiswa yang tak diterima di Bandarlampung itu, menyerbu Bandarjaya. Sisanya, tak ada yang kuliah seperti biasa, ke Jabodetabek. Lha, terus isinya kota Anda yang jadi kota pendidikan itu siapa? Para alumni Dolly atau Panjang? Lucu, kan.
Bahkan, teman saya yang tukang parkir juga akan pindah ke Bandarlampung karena sudah ramai, semua latar dan halaman rumah jadi lokasi usaha. Satu lagi, soal PAD, ini nurut teman saya yang tukang parkir di Pasar Tejoagung. Selain kehabisan magnet sebagai kota pendidikan, Metro juga mengalami kendala keuangan yang sangat dahsyat. Kan, pemasukan terbesar dari salar, semacam uang preman dan setoran parkir. Salah satunya dari Pasar Tejoagung. Nah, perda salar itu sendiri, sudah dibatalkan Presiden RI bersama ribuan perda yang lain di seluruh Indonesia karena dinilai diskriminatif dan mencekik leher rakyat.
Terus, Pak Walikota Chrisna Putra dapat uang dari mana, hayo? Minta DAU dan DAK, lhah, bagaimana mungkin bisa dapat, orang bapak sibuk shelfie sama orang sakit dan sibuk gotong royong. Jangan-jangan, Pak Walikota juga gak pernah ke Jakarta untuk lobi-lobi anggaran, ya kan? Jangan-jangan kalau ke kantor kementerian, malah dibentak satpam atau staff yang sebenarnya banyak dari Kota Metro ketika masa-masa sekolahnya.
Saya kasihan sama Pak Walikota, suer! Makanya nulis surat rahasia ini.
Oya, banyak kafe, waralaba modern, anak muda pacaran, ini bukan kemajuan, lho Pak. Melainkan sekadar usaha musiman yang sudah bertenggat waktu. Ini awal kehancuran dan dunia yang sepi, Pak Walikota Metro Chrisna Putra, ngarti kagak, sih! Gini, saya jelaskan, mart-mart itu ada yang kongsi, ada yang sewa kontrak selama 10 tahun. Daya tahan bangunannya juga cuma 15 tahun, mereka siap tutup dan pindah dalam rentang waktu itu. Kalaupun diperpanjang, itu bonus, artinya rakyat cukup tabah dihisap dan dijajah dalam rentang waktu yang cukup lama. Belum lagi permainan bank, jangan-jangan mereka tutup sebelum waktunya karena beralasan merugi, akhirnya tempatnya disita bank meski tak sebanding. Ah, soal ini saya perlu memberi kuliah, tentang bagaimana sistem ekonomi moneter, reksadana dan rentenir itu bekerja. Yah, kekalau saja Pak Walikota Chrisna Putra, bisa mudeng, kan Sampean sudah tua, jangan-jangan susah ngeh dengan kondisi yang mengancam dan membahayakan warga Metro ini.
Kemudian soal terenggutnya hak-hak pejalan kaki, pesepeda, apa Pak Walikota Metro Chrisna Putra sadar. Atau pura-pura tidak tahu. Itu kejadian di depan rumah dinas Anda, di depan kantor walikota, apa sampean picak?! Lihat foto tulisan ini, kalau Anda pura-pura tak tahu. Ini bukti kewibawaan Anda sebagai walikota tidak ada. Bagaimana mungkin sebuah perusahaan, alih-alih berbagi CSR menyumbang kursi-kursi besi di taman kota, membantu bangun trotoar dan menghijaukan lingkungan, justru merangsek seperti rentenir yang memakan batas tanah tetangga. Ini mereka jelas-jelas merampas hak warga, merampok tanah negara dan menyempitkan ruang jalan provinsi. Ah, mungkin Pak Walikota Chrisna Putra lupa kejadian 2009. Saya ingatkan kalau Anda memang sudah pikun, dulu di Bandarlampung ada hotel mesum yang kelakuannya sebajingan ini. Menggerus trotoar jadi tempat parkir. Geger, DPRD bereaksi, warga berontak, lalu izin AMDAL dievaluasi, meski selesai dengan cis, tapi tak semudah menjajah di Kota Metro yang Pak Walikota Chrisna Putra pimpin. DPRD juga, bisu, jangan-jangan gak ngerti. Oya titip pertanyaan, apa matanya picak? Tapi, Pak Walikota Chrisna Putra semoga sehat-sehat saja, jangan lupa sering senyum dan ibadah. Jangan mudah marah ya, Pak. Apalagi waktu baca surat ini.
Maaf, kalau saya yang warga Bandarlampung ini ikut nyinyir dan sedikit kasar dalam kata-kata. Sebab, setelah menimbang-nimbang dan lihat tata kotanya, pacar saya yang sekolah di Smansa, lalu teman-teman saya yang kuliah di sana, anak-anak saya yang mondok di sana, mulai tak tertarik lagi tinggal di kota yang Anda pimpin. Ups, apa walikotanya masih Chrisna Putra ya?
Sekali lagi maaf, kalau surat ini salah alamat. Maklum, menulis surat ini saya sembari mendengarkan lagunya Ayu Tingting. Dan melihat-lihat foto selama melintas Metro hari Minggu, kemarin. Tabik. (*)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.












Add a Comment