Sepuluh Menit Lagi Jemput Saya
14 September 2016 by: Redaksi - Dilihat 187 kali

JUDUL itu sebenarnya dari pesan WA: "10 menit lg jmput sy."

Tidak ada yang istimewa dari kalimatnya, kecuali setelah menekan tombol kirim. Pesan itu, kalimat saya yang penuh keyakinan akan masa depan, tiba-tiba menyentak relung terdalam dari pikiran. Sepertinya, saya salah ketika mengirim pesan itu.

Benar. Saya tidak mampu datang dalam waktu 10 menit kemudian di tempat yang sudah kami janjikan. Ban mobil depan nyangkut di trotoar, buruknya drainase dan lokasi parkir tak mungkin saya salahkan. Pesan terkirim itulah yang salah.

Pemerintah, pemilik warung, tukang parkir, dan keteledoran seseorang tentang sebuah peristiwa yang tak bisa disangka, harus dipahami sebagai proses kesalahan diri sendiri. Itulah kenapa kita tak pernah boleh menyalahkan orang lain, meski seseorang yang sudah berlaku jahat sekali pun. Termasuk mendoakan yang buruk atas nasib orang lain merupakan perbuatan terlarang karena bisa jadi berbalik menimpa diri sendiri. Termasuk sekadar perkataan yang diucapkan untuk menyalahkan orang lain dan membenarkan prilaku kita, tidak butuh lama, justru orang yang dianggap salah menemukan kebenaran dan tak mengalaminya. Tak jarang kita melihat, orang yang merasa benar, menderita akibat ucapan menyalahkan orang lain.

Kita sering, melihat dengan jelas kesalahan orang lain tanpa menyadari kesalahan sendiri. Dan itu benar-benar saya dapatkan ketika sudah mengirim pesan. "10 menit lg jmput sy."

Banyak di antara kita, lupa introspeksi, muhasabah dan melihat ke dalam diri, sehingga yang ada adalah tumpukan kesalahan orang lain. Lupa atas kesalahan sendiri yang di dalam tubuh dan jiwa kita, selalu diliputi berbagai kesalahan.

Kesalahan yang tak pernah dievaluasi akan memunculkan kesalahan ikutan, sampai pada level tertentu, merasa benar meski hakekatnya salah. Begitu seterusnya.

Kembali pada soal 10 menit. Kalkulasi waktu dan jarak tempuh yang tak mungkin lebih dari sepuluh menit itu, menjadi molor nyaris 1 jam. Di sanalah, akibat pesan itu, saya menjadi orang yang ingkar janji. Tidak tepat waktu dan pada kadar tertentu, membuat saya tak lagi bisa dipercaya. Kenapa? Sebab, janji 10 menit sampai setelah 1 jam. Apakah untuk memulihkan kepercayaan mesti membuat alasan yang masuk akal? Apakah jarak yang kurang dari 2 kilometer di area bebas macet, sepi pengendara namun butuh waktu satu jam itu masuk akal?

Pertanyaan itu semua, tidak butuh jawaban. Tidak ada rasionalisasi yang bisa diberikan kecuali berbagai kecaman, seperti jam karet yang bahasa kasarnya, salah satu ciri orang munafik dari tiga ciri yang ada. Berjanji ingkar, bicaranya bohong dan jika dipercaya khianat. 10 menit, tidak datang, cukup melingkupi ciri-cirinya. 

Tidak ada manusia yang bisa terhindar dari tiga ciri itu di dunia modern. Hanya nabi yang selalu disanjung dan diberi salawat yang mampu terbebas. Allahumma solli ala Muhammad SAW. Sebab, di sana ada pengaturan kunci. Jangan ada kepastian terkait masa depan dan janji yang akan dilakukan. Katakanlah, Insya Allah. Jika Allah mengizinkan. Jika ada kemudahan dari Allah, jika tidak ada halangan dan sebagainya.

Keuntungan kita, sebagai ummat Nabi Muhammad, diajarkan secara detail yang semua laku dan cara menjadi tenang, teratur dan bebas dari kesalahan. Termasuk tidak penuh kebencian pada orang lain sampai pada bagaimana buang hajat pun, sudah diatur secara rinci.

Bahkan sebelum kejadian. Sebelum mengirim pesan 10 menit itu, saya sempat berpikir, ada yang salah. Dan tidak butuh waktu lama, saya sudah menyadari bahwa memang salah. Mestinya menulis pesan. Insya Allah 10 menit lagi. Beruntung, ini zaman modern, kesalahan mengirim pesan, bisa diperbaiki dengan langsung menelepon. Meminta maaf dan semacamnya. Termasuk mengundang untuk datang di lokasi yang di luar perjanjian dimana saya merasa terhukum akibat merasa sok tahu jika pasti 10 menit lagi sampai di titik penjemputan. Masalahnya adalah, bagaiamana jika saya janji dalam waktu yang lebih lama, jarak yang lebih jauh? Solusinya, setahu saya hanya dimulai kata Insya Allah.

Pertanyaan yang mengagungkan akal kemudian, kenapa orang yang berkata Insya Allah selalu ingkar? Inilah pertanyaan pengalaman spiritual yang dikhayalkan tanpa pernah mengalaminya. Jadi, tidak perlu dijawab atau dikecam. Cukup disadarkan, kelak akan mengalaminya sendiri.

Setiap orang, punya jalan untuk menemukan titik perjalanan spiritualnya sendiri-sendiri. Meski jalur yang harus ditempuh sudah ada, rambu dan petunjuknya sudah lengkap, terkadang perlu menjajaki ketersesatan untuk kembali ke jalan yang benar. Terkadang ada yang lurus terus sampai mati. Termasuk di dalamnya, ada yang setelah menempuh jalan lurus, harus berbelok karena merasa selalu benar, merasa tak pernah salah. Getaran yang menuntun untuk sadar atas kesalahan, diabaikan karena sudah mulai tidak mengenal dirinya sendiri. Salah dan benar sudah berada di luar kesadaran laku hidupnya.

Orang yang benar itu bukan yang tidak pernah salah, melainkan yang sadar dirinya salah kemudian memperbaiki kesalahan. Pada momentum ini, saya ingat banyak berbuat salah sehingga saya meminta maaf dan tentu dengan senang hati jika ada yang mengingatkan.

Mari kita senantiasa kasihan melihat ada orang yang merasa selalu benar, sibuk dengan urusan orang lain dan bebal ketika diingatkan. Meski itu juga bukan sifat dan sikap aneh, karena setiap kita juga berprilaku serupa. Apa kemudian yang membedakan? Tidak ada. Yang membuat beda itu hanya sadar dirinya selalu berbuat salah sehingga menyerahkan hidupnya secara total pada kehendak Allah yang punya sifat serba maha. Koridornya cukup dengan menjauhi larangan Allah sekuat tenaga, menjalankan perintah Allah dengan sungguh-sungguh. Titik. Demikian setelah saya kecelakaan akibat kirim pesan 10 menit lagi agar jemput di lokasi pertemuan. (*)

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )