TEPAT pada 24 November 2014, saya menulis begini; "Inilah proses paling mengerikan dalam sejarah intelektual anak muda di Lampung. Ketika ada proses elitisisme, kecongkakan berpikir dan berbagai sikap adigang adigung adiguna. Mereka telah bahu membahu menorehkan tapak, mengokohkan kebersahajaan warga Metro yang masih kuat tradisi gotong royong."
Penggalan paragraf awal itu, bagian dari penglihatan atas foto dua anak muda yang saya kenal, cukup gigih membangun komunitas agar melek keberaksaraan di kota pendidikan yang sekarang mulai bergeser jadi kota tanpa konsep.
Kedua orang dalam foto itu, bukan orang sembarangan. Mantan Ketua KPU Kota yang juga berlatar aktivis yang memilih berkhidmat di komunitas Cangkir Kamisan dan kandidat doktor ilmu hukum di Undip yang tidak akan menyelesaikan studi sebelum ada manfaat bagi lingkungan. Hingga pagi ini, dia belum wisuda meski kiprahnya sudah terwujud.
Mereka adalah bagian yang "hanya segelintir" dari anak muda yang tekun belajar dan mentradisikan pembelajaran, mereka kemudian jadi semacam katarsis. Inilah contoh nyata, "apa yang telah kita berikan bagi masyarakat" menjadi kredo gerakan.
Mereka bergerak kolektif tidak dalam upaya pencitraan dan mereka jauh dari kiprah untuk maju Pilwakot yang sebentar lagi dihelat. Namun mereka membuktikan, seharusnya beginilah jadi politisi. Medorong perubahan dari hal-hal kecil hingga mewujud jadi gerakan besar. Menjadi kesadaran bersama.
Baru 2014, dibentuk komunitas, sudah lahir berbagai produk yang luar biasa. Sebut saja, portal jurnalisme warga pojoksamber, situs kumpulan berbagai pemikiran nuwobalak, diskusi rutin setiap Kamis malam, meluncurkan album, lembaga riset, penerbitan sai wawai institute, membuat puluhan buku-buku pemikiran, membangun rumah bersama, dan berbagai aksi gotong royong yang sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Baik even maupun inisiasi aktivitasnya.
Beberapa hari lalu, saya sempat ikut Kamisan, rumah bersama yang dulu didirikan dengan patungan dari honor menulis, sampai membuat gerakan sedekah papan, kini mulai reyot. Rumah panggung di atas kolam ikan itu, beberapa papannya mulai lapuk, jika kita berjalan mesti minggir-minggir dan sedikit berjingkat agar tak terperosok.
Waktu ternyata sangat cepat berlalu. Namun dua tahun menjaga aktivitas dan tradisi literasi, tetap bertahan dan terus memproduksi karya-karya kreatif, bukan perkara mudah.
Merawat tradisi kritis di era medsos yang kini seorang anak bisa bilang "ndasmu" pada seorang kiai sepuh, membuat kita bergidik dan langsung ketakutan dengan membaca keberanian tanpa etika itu. Menyadarkan, memang, mungkin saya termasuk di dalamnya, ada yang mengkritik hanya sekadar pakai kebencian, caci maki dan bisa terdistribusi cepat, luas lalu panen riuh tepuk sensasi. Memunculkan kemarahan masif, serta "mungkin" di bagian lain, tetap ada yang mengkritik dengan konstruksi pemikiran yang kontemplatif. Meski harus diakui, sekarang, sulit dibedakan.
Namun demikian, komunitas Cangkir Kamisan bisa merawat akal sehat itu. Menjaga iklim intelektual yang kuat referensi, mendalam pada proses mengamati, faham kausalitas dan punya keteguhan dalil, ketangguhan logika serta semangat untuk memberi manfaat bagi manusia lain, mencegah kerusakan yang lebih jauh serta sedapat mungkin menyumbang kebaikan.
Apa modal untuk terus berkarya? Apa resep jitu dan mempertahankan organisme gerakan? Bagaimana upaya merawat dan meruwat akal sehat? Mestinya harus dijawab dalam bentuk buku, yang lebih komprehenshif, mendokumentasikan kiprah dan kelahiran Cangkir Kamisan. Bukan pemikiran parsial semerti ikhwal kota dan sebagainya.
Dunia boleh saja berubah, visi kota pendidikan bisa saja diganti jadi industri hiburan, seperti atraksi gajah yang memanfaatkan dunia pendidikan, kota pendidikan inklusif dapat diubah semau pejabatnya agar jadi kota ruko atau duo intan, jam malam yang di-perda-kan untuk belajar dapat diganti arena begadang, karaoke, atau waktu dimana anak-anak muda usia pelajar kebut-kebutan naik motor tanpa helm, namun semangat untuk menjadi lebih baik dan terdidik, harus terus disuarakan.
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.
Manusia, siapa pun dan berprofesi sebagai apa pun, pasti pernah mengalami lilitan masalah. Cepitan problem dan belenggu persoalan. Akan tetapi, kemerdekaan bersikap dan semangat untuk ada, mesti terus digelorakan. Cangkir Kamisan adalah pendulum, yang bukan saja mengayunkan gelombang kebaikan. Mestinya juga bisa menjadi bandul penghancur segala bentuk sesat pikir dan gagal paham. Sebab, kekuatan arah kemana sebuah jalan ditempuh, adalah awal mencapai tujuan. Jika tujuan lahirnya komunitas merupakan kebaikan untuk mewujudkan tagline: "Semua tempat adalah sekolah dan semua orang adalah guru." Bersuara keras dan melawan upaya perwujudan semua sekolah jadi lahan bisnis dan semua orang dianggap bodoh, harus dilakukan. Karena, diam atas perlakuan itu adalah kejahatan. Bahkan, berpura-pura tak tahu keadaan, merupakan pengkhianatan.
Sekarang, menjelang akhir 24 November 2016, membuat saya terkenang foto itu. Foto yang menunjukkan semangat, eksistensi sekaligus manifestasi jiwa muda yang merdeka. (*)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.













Add a Comment