DULU, sekitar pertengahan 2000, akibat ceroboh ketika bertugas menguras jeding, saya dihukum untuk menyetorkan hafalan Al Mulk ke Agam. Bukan hukuman ditundung minggat itu yang membuat saya sedih. Masygul. Melainkan kepada anak yang sering saya tempeleng itulah saya mesti berguru, jauh lebih membuat kesal. Sangat menjengkelkan. Sekaligus ingin menempeleng dia yang wajahnya, benar-benar diancuki dan sering saya panggil; "kocolan".
Bayangkan, saya mesti menempuh perjalanan berhari-hari dengan berbagai keterbatasan, hanya untuk menemui Kocolan.
Ketika itu, saya tak bisa membantah. Sebab, dalil yang dipakai, siapa yang menyimpang dari jamaah berarti menyimpang ke neraka. Siapa yang tidak taat pada guru, berarti berguru pada setan. Namun kenapa harus ke Kocolan? Jiwa muda saya memberontak, namun harus taat. Keyakinan akan lakon Dewa Ruci sampai menemukan pohon Gung Susuhe Angin, termasuk mendapat keutamaan bisa berjumpa dengan yang muskil, menemukan keindahan di balik kepatuhan, membuat saya dengan setengah terpaksa menjalaninya.
Perjalanan ke Agam, bukan perkara mudah. Modal saya ke sana, hanya "bismilah" dan restu Ajengan.
Itulah kisah yang pernah saya tulis tentang bagaimana cara gratis makan ketika naik bus ekonomi. Beruntung, selain baju koko dan celana dasar yang tentu saja cingkrang, saya masih punya celana pendek dan kaos putih yang sering kami sebut sebagai Kaos Kungfu. Itulah celana dan kaos yang saya pakai sepanjang jalan melintasi jalan lintas Sumatera yang kiri-kanan masih menunjukkan tanah belukar. Sepi dan tak mengenal apa itu macet di perjalanan. Macet hanya dikenal ketika ban mobil bus pecah di tengah jalan. Semua penumpung saling bertegur sapa, pasti saling kenal, ramah dan akrab meski baru bertemu di dalam bus.
Sampai Agam, tepat seperti yang diprediksi, malam hari pas waktu Isya. Kocolan dari toa masjid, terdengar jadi imam salat. Suaranya sangat khas. Dia memang sering jadi bintang murotal. Hafalannya juga paling banyak. Dia melantunkan Al Mulk. Tentu saya heran, bagaimana bocah ini bisa jadi imam di masjid sebesar ini?
Tentu, terbayang bagaimana menyatunya perasaan kesal dan malu tertekuk-tekuk di muka. Sebagaimana diamanahkan, saya mesti mencium tangannya waktu salaman. Bocah dengan wajah jelek, selain namanya sering saya juluki kasar, selalu saya rundung dan jadi tukang suruh, dia seingatku wajahnya benar-benar sangat jelek, sering juga saya panggil monyet. Pertemuan saya sangat dramatis. Saya kikuk. Dia tersenyum. Wajahnya kini begitu agung, penuh cahaya dan pesona. Memeluk dan menyentuhkan pipi, salamnya sangat lembut dan membuat gentar. Percakapannya tak seperti basa-basi. Saya lebih banyak diam. Tertunduk dan mendadak jadi bocah yang manis. Setelah imam subuh, Kocolan naik ke mimbar, mengulas ayat-ayat dan hadist seputar thoharoh. Setengah mengantuk, saya memang tak paham apa yang disampaikan. Namun saya sangat tertib menunggu sorokan hafalan Al Mulk agar lekas pergi dari hadapannya. Semoga lepas Dhuha saya bisa pulang. Dan betapa saya terkejut, bagaimana saya bisa pulang kalau tak punya sepeserpun?
Entah bagaimana ketika itu kelanjutannya, hanya yang masih ingat, minta diantar Kocolan ke Wartel. Lalu butuh waktu sekitar dua minggu saya bermukim bareng Kocolan. Benar-benar belajar makna dan ketekunan menjalani kehidupan yang sangat permai. Bahkan, ketika menulis ini saya masih ingat air mata perpisahan kami.
"Surotul minal quran, tsalatsuna ayatan tanfauhu tasfau lishohibiha hatta yugfirolahu."
Meski tak seberapa paham artinya, saya dengan yakin ketika itu mengangguk patuh dan menjawab."Insya Allah."
Kocolan telah menjelma jadi sosok yang lain, seorang yang puasa daud, dan mendadak, saya takzim serupa dengan Ajengan. Sayang, saya tak bertemu dengan Beliau ketika ke sini. Saya sekarang tak berani memanggilnya dengan nama yang buruk. Bahkan mengganti kata "dia" dengan "beliau". Bukan dengan panggilan Anak Kampang Kocolan lagi. :melet:
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.













Add a Comment