Ini Bapak Asuh, Jenderal
18 Juli 2016 by: Redaksi - Dilihat 161 kali
"Jenderal-jenderal kita mengabdi kepada pemilik modal bukan Negara. Lihat saja, mereka biasa saja melihat rakyat dihabisi hidupnya oleh pemilik modal."

KETIKA guru saya sudah berkomentar semacam ini, apa yang kita rasakan selain deretan luka dan bertumpuk-tumpuk kebencian. Namun demikian, sebagaimana lazimnya masyarakat, tetap bisa pasrah dan nrimo ing pandhum. Tanpa bisa berbuat apa pun. Sebab, kita mesti mempermaklumkan, jadi jenderal itu susah, tak sembarang orang bisa mencapainya.

Guru yang mengajari saya tekhnik menulis ini, sering mengulas sebuah perspektif lain dari lahirnya rezim yang penuh kebohongan. Rezim yang berdiri di atas citra palsu dan berbagai laku jahat yang tak tersentuh hukum. Meski saya sering berbeda pendapat, namun soal yang diungkapkan tentang tingkah beberapa oknum jenderal, saya sepakat atas opininya.

Jenderal, sudah kenal akrab dengan cukong, istilah ayah angkat untuk kenaikan pangkat dan sekolahnya. Bahkan jauh lebih karib dibanding dengan keluarganya. Persoalannya sepele. Di masa-masa sulit mereka, sudah diurus. Diperhatikan dan dibiayai.

Jauh sebelum jadi jenderal, jika ada calon perwira yang terlihat cemerlang, tak akan kesulitan menggapai keinginan. Sebab, sudah ada orang yang tiba-tiba datang. Bak sinterklaus. Menuruti dan mencukupi semua kebutuhan. Menolak, alamat kariernya terpuruk. Stagnan. Itu jika beruntung, jika apes, alasan kecelakaan ketika latihan, calon perwira kita yang moncer itu sudah dipulangkan dengan ditandu haru-haru keluarga yang berurai air mata. Meninggal sebelum berperang. Meninggal sebelum tahu siapa lawan siapa kawan. Prajurit yang harus pulang dengan dalih paling rasional. Kecelakaan ketika latihan.

Keluarga hanya bisa menangi tanpa bisa mengakses sebab-sebab kematian dan apa yang sebenarnya terjadi. 

Tulisan yang saya batalkan kemarin, menyinggung beberapa soal ini. Antara lain, cara sekelompok orang yang tak bisa masuk jadi calon perwira, maka ada tim khusus yang mencari "anak asuh".

Anak asuh inilah yang menjadi kepanjangan tangan mereka. Maka jangan kaget, untuk adik-adik saya yang sekarang menempuh studi di Akpol maupun di Akmil atau Akademi sejenis. Terlihat menonjol dari sisi keahlian maupun kecerdasan, kemudian ada yang tiba-tiba secara penuh empati membelikan raket tenis paling mahal, sepatu paling keren atau atribut apa pun hanya karena pertemanan. Nanti, ketika ada kepentingan yang mengusik pemodal, dan calon perwira kita telah jadi jenderal, ada yang mengejutkan. Datang membawa setumpuk tagihan kebaikan pada "anak asuh" itu.

Menerima, jatuh pada pembelaan cukong dibanding penegakan hukum. Menolak, alamat kariernya hancur. Bahasa lain dari itu, dikubur hidup-hidup sebab, tak bisa dicelakakan ketika masih jadi calon perwira.

Melahirkan jenderal berkualitas dan berpihak pada negara bangsa, membela rakyat harus dimulai dari persoalan sederhana. Hilangkan "bapak asuh" yang sebenarnya para antek, cukong dan orang-orang yang anaknya tak mungkin bisa diterima di akademi penjaga NKRI itu. 

Boleh saja kita berharap dari pencerahan dan kesadaran para jenderal. Harus dimulai putusnya hubungan bapak atau "anak asuh". Para perwira mesti meniadakan hubungan kekerabatan apa pun dengan orang di luar institusinya. Tentu saja, dimulai dari para pemegang tampuk kekuasaan. Masalahnya apakah itu mungkin? Sementara pemegang tampuk kekuasaan hasil rekayasa dan produk "anak asuh".

Semoga, Allah menjaga bangsa kita dengan hadirnya para jenderal berkesadaran negara bangsa. Bukan berkesadaran bapak asuh yang demi membelanya, kehilangan nalar ksatria sebagai pilar berdirinya dan utuh kokohnya bangsa kita. Amin. (*)  

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )