Memuja Orang Fasis
30 Juli 2016 by: Redaksi - Dilihat 268 kali

BEBERAPA hari ini saya mengenang dan kembali, membaca kisah-kisah inspiratif seputar Hocaefendi. Satu yang bisa ditangkap, orang hebat itu dilahirkan untuk ditundung minggat dari rumah sejak usia muda. Kalau sayang dengan anak, tundungen lungo. Suruh dia pergi jauh menuntut ilmu agar tahu dunia luar, paham kasih sayang orang tua dan merasakan bahwa hidup itu keras.

Hocaefendi ke luar rumah mempelajari agama sejak usia 14 tahun. Tercatat, Darwis juga pergi dari asuhan dua orang tuanya ketika masih berusia 15 tahun. Begitu juga Imam Bukhori, Imam Syafii, dan lain sebagainya.

Hocaefendi mengembangkan ajaran Hizmet. Yakni, sebuah anjuran untuk lebih menekuni kehidupan sebagai pelayan orang banyak. Hizmet menjadi semacam ajaran dan anjuran yang langsung ditekuninya. Menginjak usia 20 tahun, Hocaefendi, meninggalkan tanah kelahiran. Dia berdiam diri di dalam masjid agung, sekaligus menjadi imam. Sebab, sejak usia 14 tahun dirinya telah hafal Al Quran.

Tercatat, selama dua tahun dirinya riyadhah, berlatih diri dan batin untuk lebih zuhud, mujahadah dan melakukan ketekunan spiritual untuk menguatkan diri atas berbagai gejolak nafsu dan tuntutan duniawi.

Merasa terpanggil atas dorongan cinta tanah air dan menjalankan kewajiban sebagai warga negara, dia ikut wajib militer. Kekuatan batin dan pengalaman sebagai imam masjid, ditampah tempaan ketika berlatih militer, semakin membuat Hocaefendi matang dalam kedewasaan. Hidupnya kemudian berpindah-pindah, dari Erzurum, ke Kota Edirne, lalu di Kota Izmir, lalu berkeliling di seluruh kawasan barat Anatolia.

Hocaefendi kemudian menempuh jalan Al Mukayamat. Semacam nazar untuk lebih berkhidmat di jalur dakwah agar lebih banyak orang semakin taat beribadah pada Allah dan bermanfaat bagi manusia lain.

Dia semakin dikagumi, menjadi suar yang mulai banyak pengikut, cara mendidik dan memberikan pengajaran menginspirasi banyak orang bahkan dirumuskan dalam wujud kurikulum yang kemudian berwujud sekolah, tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Melalui pengajaran yang disampaikannya, Hocaefendi dinilai berhasil menggugah hati banyak orang sekaligus memasukkan nilai-nilai moral yang luhur. Bahkan dia dinilai mampu membangkitkan kesadaran untuk lebih bergairah menjalani kehidupan setelah meranggas dan kering. Beliau dianggap ksatria tanpa kuda dan pedang. Perang baginya adalah mengalahkan keterbelakangan dan kebodohan. Sehingga senjata yang diperlukan adalah mutiara ilmu, iman dan ketaatan pada Allah.

Semakin besarnya pengaruh Hocaefendi, dianggap sebagai ancaman dan mengganggu stabilitas nasional. Dia kemudian dituduh makar, atas dugaan pemberontakan itulah, dia ditahan selama enam bulan. Dalam pengadilan, semua tuduhan atas makar Hocaefendi tidak dapat dibuktikan.

Dia memulai kembali aktivitasnya sebagai imam masjid di Kota Bornova. Dari kota yang terletak di provinsi Izmir itulah, Hocaefendi keliling memberikan kuliah-kuliah umum dan semakin sering memasarkan pemikiran-pemikirannya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Dia semakin disukai dan berpengaruh luas. Gerakannya semakin populer. Disebut Hizmet Movement. Orang-orang yang tersentuh secara kompak mengadopsi pemikiran-pemikirannya untuk kemudian dibuat sekolah-sekolah umum maupun khusus.

Hizmet Movement semakin digandrungi banyak ummat islam seiring maraknya perdebatan seputar Dar Al-Islam dan Dar Al-Harb. Soal negaranya, di berbagai sektor, ketika banyak orang mulai memancing komentar Hocaefendi, hanya dijawab singkat; "Dar Al- Khidmat" atau semacam tempat pelayanan. Dia kemudian mengusung jargon "Cinta dan Sabar" sebagai basis teologi gerakan pelayanannya ke seluruh penjuru dunia.

Di Indonesia, gerakan pelayanan itu juga banyak menjadi inspirasi. Tercatat ada sembilan tempat yang mengadopsi model pendidikan itu. Yakni, Pribadi Bilingual Boarding School yang berada di Depok dan Bandung. Lalu, Kharisma Bangsa Bilingual Boarding School di Tangerang Selatan, Semesta Bilingual Boarding School di Semarang, Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School di Yogyakarta, Sragen Bilingual Boarding School, Fatih Boy’s School dan Fatih Girl’s School di Aceh, serta Banua Bilingual Boarding School di Kalimantan Selatan.

Nama Hocaefendi semakin moncer. Terutama ketika ada upaya kudeta di Turki yang menyebutnya sebagai dalang pemberontakan beberapa hari lalu.

Media kita menyebutnya, Fethullah Gulen. Nama yang akrab dalam pergerakan islam modern. Fethullah Gulen Hocaefendi, menjadi semacam magnet gerakan yang menakutkan bagi Erdogan.

Erdogan sendiri adalah pemimpin Turki yang banyak dipuja-puja gerakan politik islam di Indonesia, yang ternyata orang sekuler dan fasis. (*)

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )