TULISAN ini untuk Tuan Battin Mangkunegara. Yah, biar kekinian, semacam surat terbuka begitulah. Tolong kelen baca, tak usah banyak cakap.
Sebelum baca tulisan ini, sebaiknya baca buku yang jadi foto tulisan ini sampai habis. Termasuk lihat rekaman peluncurannya, terbukti bukan, Gubernur M Ridho Ficardo sudah membangun, dipuji mahasiswa asal Pesisir Barat juga, ya kan?
Jadi, Tuan Battin Mangkunegara jangan berisik. Apalagi sibuk menghitung hasil penilaian dan rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan. Toh, faktanya, Pemprov Lampung berhasil mendapat predikat wajar tanpa pengecualian (WTP). Sebuah penilaian tertinggi dan simbol suksesnya pengelolaan keuangan daerah. Sehingga, wajar saja kalau dipasang iklan dan menggaet semua media untuk memopulerkan predikat WTP itu.
Suksesnya ini akan terus berulang, mungkin terpuruk kalau Sutono jadi Sekprov Lampung. Kalau periode anggaran 2016 ada sekitar 4,7 triliun. Kemudian ada 3,1 triliun untuk anggaran belanja rutin dan operasional. Wajar sajalah, bukankah ini periode pertama menjabat jadi gubernur? Bayangkan, pemprov melalui visi gubernur yang luar biasa (baca di buku ini) sudah membuat anggara dalam APBD TA 2016 sekitar 1,6 triliun untuk membangun, merawat dan memperbagus bangunan atau fisik lain seperti jalan, jembatan, dlsb.
Sudah 6 bulan berjalan sejak berlakunya APBD TA 2016, telah 18,18 persen anggaran yang terserap. Bukankah itu prestasi? Silahkan baca tulisan saya sebelumnya soal jangan perbaiki jalan rusak kami di judul "Pekerjaan Saya Khotib". Bukankah ini bahaya, kalau baru 6 bulan semua anggaran terserap, jalan-jalan bagus semua, jembatan kokoh, bangunan fatsum indah dan mewah, nanti mantan gubernur sebelumnya diiris kupingnya.
Masyarakat Lampung harusnya bangga, punya anggaran sekitar 35,59 persen dari total anggaran 4.7 triliun itu. Dibanding tidak dapat sama sekali? Ups, Tuan Battin, perusahaan pemenang tender itu asli Lampung dikelola orang Lampung atau orang cina yang sedang tren saat ini? Mudah-mudahan kalau pun pengusaha cina, sudah punya identitas Lampung. :D
Soal tikus yang menggerogoti uang rakyat menurut Tuan Battin, perlu saya jawab. Wajar sajalah, dinas bina marga yang puakhi permasalahkan memang ditarget sebagai salah satu dinas untuk penopang beaya politik, selain dinas pendidikan dan dispenda. So, jadi apa masalahnya? Kalau memang minta jatah proyek, mari kita bicarakan baik-baik, jangan lupa siapkan setoran minimal 20 persen dari nilai proyek yang akan diajukan. Biar bisa kita atur tender dan perusahaan Tuan Battin yang menang jadi rekanan. Tentang Tuan Battin gaptek untuk ikut tender online di LPSE, gampang, bisa diatur sepanjang setoran dimuka. Semua bisa lewat saya, syaratnya jangan bringsik dulu. Jadi kita pujapuji dulu semua jalan mulus, semua pembangunan baik dan lancar. Kalau terpaksanya kritis, nanti kita seperti orang-orang sukses yang lain. Anggap sebagai anjing menggonggong kafilah berlalu.
Tuan Battin perlu tahu, semua yang berani kritis sudah bungkam itu karena memang sudah sibuk jadi rekanan. Semua orang juga nantinya akan mempermaklumkan kalau Tuan Battin sudah tidak mengkritik gubernur lagi.
Jadi gubernur itu susah, Tuan Battin. Bayangkan, betapa sukacitanya banyak orang, termasuk saya ketika Pak Ridho Ficardo jadi gubernur. Sebab, beliau itu bisa memangkas dinasti dan klan beberapa orang di sai bumi ruwa jurai, jadi jangan dikotori dengan ungkapan yang membatalkan kegembiraan kita. Misalnya, kalimat, ternyata tidak lebih baik, dlsb. Yah, meski sesuai fakta atau bahkan lebih buruk dibanding yang berbau dinasti.
Oya, Tuan Battin juga menyoal, Dinas Bina Marga, tahun anggaran 2015, menganggarkan belanja modal untuk kegiatan fisik jalan, irigasi dan jaringan sebesar Rp711 miliar lebih dan terserap Rp657 miliar lebih atau sudah terserap 92,36 persen. "Hasil pemeriksaan fisik terhadap 11 kontrak pembangunan dan pemeliharaan jalan, ada kekurangan volume pekerjaan pekerasan ac-wc, pekerasan ac-bc, lapis pondasi agregat kelas A, B, dan S dengan total nilai Rp6 miliar lebih."
Mestinya, Tuan Battin mempermaklumkan, meski kalau saya sebenarnya berasumsi lebih dari 6 miliar. Sebab, 20 persen dari 657 miliar saja sudah 131 miliar lebih. Kok cuma 6 miliar? Kemana yang 125 miliar?
"Tinggal sekarang, apakah temuan tersebut hanya sekadar ada, dikerjakan BPK Lampung atau pemerintah sungguh-sungguh berkomitmen memberantas korupsi."
Kalimat Tuan Battin ini jadi lucu, mana ada korupsi di pemerintah sekarang? Yang korupsi itu hanya orang level pedagang daging, mereka korupsi karena tidak bisa membuat harganya jadi 80 ribu sekilo seperti janji presiden. Kalau gubernur, kepala dinas dan pejabat selevel mereka, tidak ada yang korupsi. Kalaupun tertangkap, hanya karena jadi TO saja. Seperti orang yang akan jadi Sekprov. Jangan beringsik ya, Pak Ridho itu sukses membangun. Terutama setiap acara pagi hari pasti beliau yang langsung pimpin, baik apel maupun seremoni lain macam sepeda santai atau jalan sehat. (*)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.













Add a Comment