KTP Tertinggal dan ATM yang Hilang
07 Agustus 2016 by: Redaksi - Dilihat 538 kali

BEBERAPA tahun belakangan, sebenarnya nyaris tiap tahun saya ada waktu-waktu tertentu yang harus jumpalitan. Melesat dari satu kota ke kota lain, dari desa ke desa. Sehari bisa menembus tiga provinsi sepuluh desa.

Baru pagi ini, saya bisa menikmati hidup. Menatap layar monitor, mengetik kata Via Valen atau Monata di mesin pencari. Klik tombol play. Sambil mengenang seputar perjalanan bareng Lek Tekat.

Di Bandara Soeta, saya sempat meradang gegara ulah Lek Tekat yang meledak-ledak. Mengingatnya, jadi senyum-senyum sendiri.

Semua lantaran seminggu sebelumnya, akibat buru-buru masuk, KTP Lek Tekat tertinggal. Setelah menanyakan dengan kalimat yang saya perhalus dan terpaksa sopan pada petugas cantik, akhirnya nada tanya saya meninggi. "Cuk, kalau sampai Lek Tekat tak bisa masuk, maskapai ini harus tanggungjawab."

Mental dan darah kampung saya mendidih. Sudah kulihat mereka seperti daun-daun pisang yang garing, tinggal diremet-remet. Alih-alih takut, meski saya sudah mendelik. Petugas itu malah tersenyum. Menunjukkan gigi gingsulnya yang aduhai. Lalu berjalan membelakangi saya dan Lek Tekat yang bertahan dengan melotot.

Kami masih bengong melihat baju kebayanya yang rok setumit itu ternyata punya belahan sampai paha, dia berbalik dan melambai. Sontak saja, kami mengikuti langkahnya yang gemulai. Tiba-tiba kami dalam ruangan sempit dengan tas-tas duduk yang bertumpuk.

Tiga orang berpakaian satpam warna biru-biru masuk. Wajahnya yang serupa kopi di gelas saya ini, masih teringat roman menyeramkannya.

Diluar dugaan. Dia melempar dua tas yang bertumpuk itu di hadapan kami. "Ini, cari sendiri."

Dibukanya resleting tas itu, menyembul tumpukan KTP asli. "Kalau tidak ada, cari di tas yang ini." Dilempar lagi tiga tas yang besarnya sekursi pesawat itu. Resleting dibuka, menyembul KTP asli. Sekarang mungkin sudah ada ribuan KTP dihadapan kami.

Tanpa dikomando, saya dan Lek Tekat jongkok. Mulai memilih, mencari KTP yang bernama asli Tekat. Tempat tanggal lahir, Tempel Reja, 13 Maret 1939 dan berlogo Kota Bandarlampung.

Awalnya saya mengira, orang-orang macam Lek Tekat saja yang KTP-nya bisa tertinggal. Ternyata, warga yang dari foto dan namanya terlihat kaya raya, mentereng dan parlente juga banyak yang KTP-nya tertinggal di Bandara. Khusus dari Bandarlampung, saya masih ingat ada nama Ida Rehana, Rohayati, Nurhana, Nur Halimah, Hendra, Oktavianus, Yusuf, Suhermansyah, Andi, Muhammad. Tidak ada nama Lek Tekat.

Sudah kami bongkar 7 tas, bertumpuk-tumpuk sim, ada juga kartu BPJS. Tidak ada nama Lek Tekat. Saya baru sadar, ibujari dan telunjuk saya sudah hitam seperti baru kami olesi pantat panci.

Lek Tekat dengan tekun melihat satu persatu KTP itu. Baru pagi ini pula saya sadar. Bukankah Lek Tekat tak bisa baca. Lantas ratusan KTP yang disortir dihadapannya, jangan-jangan ada nama dia. Karena tak bisa baca, lewat bersama ribuan KTP lain.

Beruntung, meski tanpa KTP kami bisa melintasi bandara dan kini sudah kembali di tanah Lampung. Membaca arah angin dan mencerecap musim. Oya, pesan saya. Kalau KTP tertinggal di bandara, jangan berusaha mencarinya. Cukuplah dengan membuat baru. (*)

ATM yang Hilang

KISAH bersama Lek Tekat mencari KTP di Bandara, masih teringat. Bahkan pegal jempol dan pedih mata mendelik masih terasa. Mungkin, akibat lama tak berbincang dengan Lek Tekat itulah, saya jadi tertular penyakit lupa. Teringat hanya ketika dalam posisi terdesak, seperti pas waktu salat usai tasyahut awal.

Ini mungkin akibat doktrin menjadi "lelaki menit terakhir". Ada kejadian aneh. Ternyata ada bank, dengan kebijakan cabul. Tak bisa mengambil uang yang tak seberapa itu menggunakan buku tabungan. Uang yang ditabung, hanya bisa diambil lewat ATM. Lha ini masalahnya. ATM yang sekebet itu bagi orang pelupa tentu persoalan. Apalagi jika hidupnya berpindah-pindah dan minjam bahasa Cak Syamsul Arifien loro lopo kabur kangingan.

Ternyata benar pesan Lek Tekat. "Bank itu abang, Le. Abang itu marah, jelmaan nafsu lawamah. Hubungan dengan bank, selalu berposisi lemah."

Sebagai orang yang sok modern, tentu menyangkal petuah macam itu. Lak ortodoks dan ndesit sekali Lek Tekat. Hari gini, lho. Tak punya ATM dan rekening bank.

Kembali ke ATM yang hilang itu. Akhirnya di siang yang gerimis, ngantuk dan kecut karena di ruang berpendingin melihat antrian aneh. Ada orang yang mau mengambil uangnya sendiri, antre. Ada yang mengeluh, mau menabung kok, antre. (Kebayangkan, hubungan sama bank, nabung saja antre apalagi mau ngutang.)

Ada juga yang berbalik dengan muka tertekuk, karena ingin mencetak buku rekening, tapi bukan atas namanya dan tentu, tidak bisa.

Beruntung, front line di balik meja itu selalu berwajah manis, senyum yang ditarik dan selalu menyejukkan mata keranjang macam saya. Meski tak bisa membendung pisuhan dan nada suara saya yang khas dan keras.

Ternyata, kebijakan ambil duit harus lewat ATM itu dari sononya, dari sangkan paraning dumadi. Jadi tidak bisa dibantah. Canggihnya lagi, wajah cantik itu melembutkan dengan kemampuan menjelaskan, ternyata ATM itu tertelan. Penyebabnya, antara lain karena mati lampu. Benar kata Bang Isbedy Stiawan Z S. PLN memang asu kapiran. Bayangkan, bank yang kata Lek Tekat, abang tak terkalahkan pun, keok sama PLN.

Nasib ATM tertelan pun, sama dengan KTP yang tertinggal di bandara. Tak bisa dicari karena masing-masing sudah diamplop. Bertumpuk-tumpuk meski tak bertas-tas macam KTP itu. "Maaf, ATM anda sudah dimusnahkan, jadi bikin baru lagi."

Apa jawaban itu membuat gembira. Siang tadi ya, karena kalimat itu dituturkan dengan lembut bercampur senyum yang aduhai. Sepertinya syarat jadi pegawai bank kalau wanita harus cantik dan halus budi bahasanya. Akan tetapi, begitu malam ini ingat, lacur. Benar ternyata kata Lek Tekat. Bank itu abang, selalu menang. Karena ATM yang tertelan kesalahan bank pun, orang miskin macam saya harus dibebani biaya bikin ATM baru. Dan apa Anda tahu, mahalnya biaya itu. Ya, Rp.10 ribu. Bayangkan, sepuluh ribu, Bro! Sepertinya dia tidak tahu, kalau perang antardesa yang membuat 64 rumah terbakar, dua orang meninggal dan tiga orang luka bacok hingga cacat itu akibat uang parkir yang hanya Rp.2 ribu.

Lantas, apa bedanya syariah dengan bank plecit yang mencekik para pedagang sayur di pasar kampung kita? Jelas beda, kalau bank plecit itu namanya koperasi, kata Lek Tekat suatu ketika. Sedangkan kalau syariah itu mudharobah. Aih, kalau koperasi plecit itu kan nipu para pedagang. Kalau doroba itu artinya memukul. Ya, memukul tengkuk orang islam yang miskin dan tolol macam saya. Saya sih mendukung saja kalau ada ulama yang mengharamkan bunga bank.

Harusnya, dibuat juga fatwa "halal dibunuh" bagi yang menipu nasabah dengan pakai nama syariah. =)) 

12 Oktober dan 30 Desember 2015

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )