SAYA sedang ngopi dan membaca esai "Islam dan Tantangan Kemiskinan" ketika mendapat tautan berita yang menyatakan, orang miskin di Lampung pada 2016 ini bertambah 68 ribu jiwa dari total 1,169 juta orang. Tidak banyak, hanya naik 0,76 poin. Namun kenaikan ini membuat Lampung jadi daerah termiskin nomor tiga di Sumatera.
BPS Lampung juga dengan jelas merilis, bertambahnya penduduk miskin dibanding 2015 itu didominasi para penduduk urban. Artinya, orang-orang yang tinggal di perkotaan, sekarang banyak yang hidup dicepit kemelaratan.
Data yang dilansir BPS Provinsi Lampung ini menarik, karena akan banyak penduduk miskin jika tidak ada peningkatan pendapatan karena penghasilan perkapita 356 ribu perbulan pada 2015 menjadi 364 ribu pada Maret 2016. Naik Rp.8 ribu perkapita. Dan itu mengancam warga di perkotaan.
Kalau seorang pedagang kaki lima berpendapatan tak sampai Rp.364 ribu sebulan, bisa terjebak kemiskinan. Sementara, kaur desa, hanya karena giat mengajak warga gotong royong membuat talut, membersihkan siring di depan rumah warga, karena sudah ada anggaran desa, bisa diklaim sebagai kerja rekanan. Seperti pengaduan warga di Lampung Utara itu. Kaur bisa berbagi uang dari proyek gotong royong warga sekitar Rp.19 juta lebih. Mungkin ini salah satu penyebab, orang desa tidak tercatat miskin lagi.
Maknanya, siapa yang ikut dan dekat dengan kekuasaan pemerintah, tidak ada yang miskin. Namun, warga yang sibuk berjualan di pasar, memproduksi barang yang modalnya terbatas, pasti jatuh dalam kubangan kemiskinan. Sesulit dan serendah apa pun seorang kepala desa mengeluh, sekarang tak ada kepala desa yang miskin dalam kategori BPS.
Agama, dalam esai yang saya baca pagi ini sembari ngopi, merupakan sistem pengertian (signification), sistem simbol dan sistem ibadah yang menyediakan sense of identity yang mendalam bagi penganutnya untuk menghadapi hidup yang kompleks sebagai sebuah tantangan eksistensial. Akibat doktrin agama yang sekadar jadi pelipur lara itulah, agama sering jadi ibadah yang kering dan doktrin abstrak yang metafisis serta sulit dipahami.
Manusia, pada level paling primitif, secara matrial dan intelektual butuh agama sebagai ibadah, pelarian untuk menanggalkan segala keterbatasan dunia. Sedangkan pada posisi tertindas, agama dibutuhkan sebagai pelipur lara.
Posisi sekadar ritual beribadah dan agama sebagai pelipur lara itu sudah mapan, teolog dan ilmuwan tak berani menganggu. Akhirnya, yang lahir adalah agama sebatas jadi tempat keluh kesah, pelipur lara dan hadirlah ketimpangan sosial.
Jika agama hendak menciptakan kesehatan sosial, maka orang beragama harus hadir dalam transformasi diri yang kemudian menjadi alat yang canggih untuk melakukan perubahan sosial. Kita memang harus memuji kehadiran orang beragama yang sudah bersama-sama menjalankan ritual selama ramadan di tugu gajah. :D
Mendadak kopi pagi ini nikmat sekali meski tanpa gula refinasi.
Mari kita lanjutkan membaca buku Asghar Ali Engineer tentang Teologi Pembebasan. Al Quran menjelaskan, nabi-nabi yang diutus kecuali Nabi Daud dan Sulaiman, berasal dari masyarakat biasa. Para nabi itu berdiri di tengah masyarakat dan tidak pernah mengidentifikasi diri dengan penguasa dan atau kelas yang berkuasa (mala).
Ketika Nabi Nuh mulai mendakwahkan agama pada kaumnya, para pemuka masyarakat yang sombong menolaknya, membantah dan menghina Nabi Nuh. Dalam Al Quran dijelaskan, pemuka masyarakat itu justru menyatakan. "Kami menganggap kamu seorang pendusta." (QS, 11:27) kemudian ada ayat lain menyatakan, setiap diutus seorang pemberi peringatan oleh Allah, orang-orang kaya di negeri itu selalu menolak dengan perkataan-perkataan yang membanggakan diri. Pendekatan ini menjelaskan, orang berkuasa, kaya para pemimpin dikategorikan mustakbirin dan rakyat biasa disebut mustadafin.
Pertentangan antara orang yang mabuk kekuasaan dengan orang yang tertindas, tanpa keraguan dan mengambil posisi yang jelas, para nabi pasti berada di masyarakat yang tertindas itu. Teologi Al Quran juga sangat tegas, agar berani mengambil posisi memerangi penguasa yang jahat untuk menyelamatkan golongan yang lemah dan tertindas itu. Al Quran (22:45) juga mengatakan, tidak ada kota yang bisa bertahan jika di dalamnya berlangsung ketidakadilan dan eksploitasi.
Ada hadist juga yang menjelaskan, Nabi Muhammad SAW meletakkan kekafiran satu tingkat lebih rendah di bawah penindasan dan ketidakadilan. Sebuah negara bisa bertahan dengan kekafiran namun tidak dengan penindasan.
Tantangan kemiskinan, harus dijawab dengan membangun struktur sosial yang bebas dari eksploitasi, penindasan dan konsentrasi kekayaan pada segelintir orang saja. Kita saksikan di Provinsi Lampung, orang yang sudah menemukan jalan untuk kaya, terus melesat menjadi sangat kaya. Sementara yang jatuh miskin, sulit bangkit dari keterpurukan ekonominya. Pada posisi ini, ketidakadilan sistem mulai terlihat. Meski tak dapat juga divonis sebagai upaya lalim penguasa membuat rakyat tertindas dan memperkaya kelompok yang sedang berkuasa secara sengaja.
Artinya, kita masih cukup punya peluang untuk bangkit dengan kesadaran penuh, di mana pun posisi kita, mesti tampil tanpa berbuat dzolim. Dan ketika ada yang menindas, sehebat dan berkuasa seperti Firaun sekalipun, harus dilawan.
Selamat pagi, jangan lupa ngopi. Hidup memang terkadang rasanya pahit. (*)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.













Add a Comment