SEBAGAI hiburan, saya baru membaca bab "rutinitas dan motivasi" lalu melanjutkan ke halaman berikutnya, tentang "keseleo lidah".
Tentu bagi yang hobi baca teori strukturasi, tak asing dengan judul dalam tanda kutip itu. Namun begini, penting kiranya, setelah mengupas ternyata ada "Bab penguasa berpeci tapi mulutnya kotor" dan ada "penguasa preman bermulut sampah" ternyata di dongeng-dongeng purba, semuanya pasti berkalindan dengan dentuman musik yang lagunya bertema KKN. Semacam singkatan yang artinya, Kura Kura Ninja. :D
Atau terseralah, toh cerita ini fiktif.
Begini kisahnya, anak-anak: Zaman dahulu, ada seorang penguasa tanah perdikan. Sang baginda itu terkenal bagus pada mulanya, merakyat, selalu pakai peci di kepalanya sebagai simbol orang taat beragama. Selalu pakai atas nama Tuhan. Kalimat yang sering diucapkan, Allah tidak tidur.
Namun kemudian, wataknya yang tegas, berubah menjadi mudah marah. Karakternya yang lugas tak banyak cingcong, berubah jadi ceroboh.
Gayanya sebagai pemimpin merakyat, sering menyapa warga berkasta rendah, setelah berkuasa lebih 6 tahun di tanah perdikan itu, berubah, benar-benar berbeda, mendadak jadi diktator dan arogan. Selain pemikirannya, semua salah. Semua tolol. Selain kelakuan dan kebijakannya, semua dianggap keliru.
Seorang begawan di luar tanah perdikan, ketika dilapori kejadian itu, tersenyum. Lalu sang begawan bersabda. Itu karena dia telah menjadikan kerabatnya sebagai penguasa. Mempercayai orang dekatnya sebagai penasehat, pembisik, bisikan dan ambisinya yang suka dipuji, dilepas dari kekangan nafsu menahan kuasa.
Ini dasar perubahan seorang penguasa tanah perdikan berubah watak dari tegas jadi mudah marah.
Penguasa yang awalnya lugas lalu menjadi ceroboh, penyebabnya, karena dia sudah mulai menikmati hasil korupsi yang disangkanya rezeki.
Tentang merakyat jadi arogan karena dirinya ingin lebih lama memiliki kekuasaan dan berusaha menambah lebar tanah perdikan, agar semakin luas yang berada di bawah naungan perintahnya.
Di dongeng lainnya, ada yang bertanya, jika ada penguasa semacam itu, bagaimana cara menumbangkan kekuasaannya? Apakah ada bagian dari rakyatnya yang ingin memberontak?
Di kisah itu, singkatnya, menurut begawan. Tidak ada yang sebenarnya ingin menumbangkan kekuasaannya, namun dia dibunuh sendiri oleh kerabat dan para penasehatnya. Lalu diangkatlah istri penguasa tanah perdikan itu jadi permaisuri, ratu yang diagungkan. Yang sebenarnya, dibanting di atas bantal. Digorok sambil berdiri sebagai acara merias inagurasi. Tamat.
Setelah baca dongeng-dongeng itu, saya tertarik bikin soal untuk kelas menulis saya besok. Kira-kira begini.
Setelah membaca kisah itu. Jawablah pertanyaan di bawah ini.
1.) Apa kaitan dengan orang berbaju agamis, bermulut kotor, ceroboh dan mudah marah?
Kunci jawabannya: "Dari kisah itu, karena sudah korupsi dan terlalu melakukan nepotisme. Percaya bukan dengan instink kepemimpinan melainkan mendengar bisikan penasehat yang sebenarnya, wujud dari ingin dan nafsunya. Maka penguasa tanah perdikan mati dibunuh kerabatnya."
2.) Bagaimana melihat ancaman makar?
Kunci jawabannya: "Akibat pesona palsu atau kekuasaan yang sudah lama, membuatnya bukan semakin sadar untuk banyak berbuat kebajikan, malah menjadikan lupa diri serta berharap kekuasaan yang jauh lebih tinggi. Padahal, jika dia tak berkeinginan, kuasa yang lebih tinggi itu hanya soal waktu. Menunggu garis takdir. Sayang, penguasa tanah perdikan itu lebih dulu dibunuh kerabatnya."
3.) Apa hukuman seorang penguasa yang memaki dengan kata-kata kasar?
Kunci jawabannya: "Dibunuh kerabatnya."
4.) Apa nasehat untuk penguasa bermulut kotor?
Kunci jawabannya: "Jangan korupsi dan nepotisme."
5.) Jika Anda jadi penguasa "tanah perdikan" lalu diserang musuh apa yang akan dilakukan?
Isilah dengan menggunakan kalimat singkat, lalu uraikan kesilapan verbal; transposisi; pre-sonansi; antisipasi. (*)
Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.













Add a Comment