Tafsir Setahun Kematian Nabi Ben
02 Januari 2017 by: Redaksi - Dilihat 479 kali

HILANG beberapa hari, ternyata Lek Tekat kabur ke negeri seberang. Dimana dia mendapat hardik "wong sumangtra".

Dia memang seperti "weruh sak durunge winarah". Selalu mencegat di tikungan kejadian, sebelum bab-bab kejadian itu berlaku. Dia mampu membaca kepastian tiap-tiap fenomena dan bisa mengeja. Bahkan, kehampaan pun disebut fenomena. Lek Tekat juga mengajari saya tentang kebaikan merokok, jika berhasil bisa menikmati hidup. Jika gagal, tak menemukan nikmat merokok, niscaya membuat seseorang seketika jadi filosof.

Filosof itu, orang yang banyak omong. Maka selalu, orang yang tidak merokok bisa dipastikan nafasnya bau.

Soal kenabian dan jalan profetik, saya tak seberapa mudeng ketika Lek Tekat sering bilang Nabi Ben. Saya berpikir itu nabi baru dalam terminologi agama Samin yang dianutnya. Ternyata, itu adalah Benedict Richard O’Gorman Anderson, terkenal dengan Mbah Ben Anderson yang banyak diulas tiada duanya dalam kemampuan analisa dan kecepatan menguasai bahasa. Nabi Ben baru mangkat, Lek Tekat tentu sibuk menepak nasionalisme yang dirumuskan dalam The Spectre of Comparisons. Meninggal pada 2015 lalu. Tepat setahun di hari ini.

Tentu saya tak bisa mengimbangi Lek Tekat dalam memahami sebuah teks dan latar diciptakannya kajian teks. Meski saya yakin Lek Tekat tak bisa membaca buku Imagine Communities yang melegenda itu, dia bisa lanyah menuturkan soal-soal kenapa yang edisi 1998 ada bab penutup berjudul “Travel and Traffic”.

Ah, tahun lalu, Lek Tekat sudah di Kota Batu. Membuat saya kehilangan kawan menyeruput teh adat dan udut kelembak menyan yang ampek. Dia memang sering diancuki dan plencing-plencing ilang kayak asu. Sejak saat itu, dia menghilang. Entah kemana dan saya tak pernah lagi bisa menemukan keberadaannya. Semoga dia sehat-sehat saja. Entah pula jika tiba-tiba dirinya menjadi nabi baru yang bakal menggantikan Nabi Ben. (*)

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )