Warga Kampung Kami yang Pelupa
03 Agustus 2016 by: Redaksi - Dilihat 364 kali

LEBARAN Ketupat, setahun setelah penipuan massal untuk bekerja di pabrik sepatu, Lek Tekat kembali bikin ulah. Dia tampil dengan baju klimis. Tentu diiringi tutur kata yang mlipis. Mengenakan peci hitam bergaris emas, pakai sarung dan kemeja batik, Lek Tekat masuk dari rumah ke rumah.

Sebagaimana lazimnya orang undang-undang selamatan, Lek Tekat membuka percakapan dengan ucapan. "Niat saya kemari, pertama mau silaturahmi. Kedua, mengundang bapak dalam kenduri dan hajatan keluarga Pak Karta nanti sore bakda maghrib."

Semua orang yang didatangi manggut-manggut, lalu berterima kasih telah diundang. Pak Karta, di kampung kami terkenal orang super kaya. Selain super sibuk. Tak ada waktu bagi Pak Karta untuk jagongan di gardu, ngerumpi di beranda masjid, bahkan di acara kenduri hanya ada satu orang yang tak datang yakni, Pak Karta. Akan tetapi, karena kekayaannya, semua orang maklum. Termasuk ketika gotong royong di hari jumat, Pak Karta tak pernah bisa hadir. Tetapi, kiriman baik itu cemilan, rokok dan sekadar uang untuk menyumbang beli es cendol dari Pak Karta untuk warga yang gotong royong selalu dinikmati warga.

Entah apa pula yang ada di benak warga kampung kami, bakda maghrib seperti lupa kejadian tahun lalu soal Faisol, orang-orang lelaki berpeci dan berbaju klimis menuju rumah Pak Karta.

Satu-satunya rumah yang pagarnya dari tralis dan beton, besar serta magrong-magrong. Masuk di kampung kami, siapa pun akan selalu tahu bahwa yang itu, rumah Pak Karta.

Kehadiran warga yang berduyun-duyun itu, sontak membuat empunya rumah kaget. "Lha dalah, taiyek, ada apa ini taiyek."

Warga yang datang justru saling tatap, kebingungan juga. Baru semua orang tertawa terpingkal-pingkal. Asu. Ini pasti ulah Lek Tekat, yang lembut tutur katanya dan halus tata bahasanya itu.

Kepalang malu, Pak Karta yang sebanarnya tak bikin acara kenduri, menyuruh semua yang datang masuk. Diberilah semua yang hadir hidangan seperti lazimnya yasinan tiap-tiap malam jumat. Diputer televisi pas acara film Combat. Ada teh dan kopi, tentu rokok bentoel yang sudah dijajar manis dalam gelas-gelas kaca.

Di luar pagar rumah Pak Karta, Lek Tekat yang tertawa terkial-kial, melihat respon tuan rumah justru melongo. Dan tanpa beban, ikut masuk. Nimbrung jagongan nyeruput teh adat seraya nonton film Combat. Sesekali teriak, hidup Jerman. Maklum, warga kampung kami selalu mendukung Jerman dibanding Sekutu. Meski dalam film itu selalu kalah.

Ya, orang-orang kampung memang selalu kalah, juga paling pemaaf. Tak ada hukuman bagi penipu semacam Lek Tekat.

Warga kampung kami juga pelupa untuk sebuah kesalahan dan dosa sosial. Terlebih jika merugikan secara kolektif. Sebab mampu berlindung dalam kredo, "ambil hikmahnya."

4 Agustus 2015

Add a Comment

Memang, perjuangan itu belum tentu menunjukkan hasil, namun memulai sikap dan di posisi mana dalam ranah berjuang, penting dikokohkan sebagai bagian dari integritas jiwa muda yang berposisi, beroposisi atau terlibat, tentu saja dengan tetap berpikir merdeka.

Begal ...................... ( 17 )

Lek Tekat ...................... ( 20 )

Sari ...................... ( 43 )

Peristiwa ...................... ( 29 )